It's all about my world, the city girl..
Kalau ditanya, "Kapan kawin?", dijawab, "Santeeeeeey..."
Label: It's all about me
![]() |
| And the story begins.. |
Label: It's all about me
Welcoming Mondaaaaay..:)
Sumpah, semalem saya berharap hari Senin cepet si datengnya. Saya mati sumpek di kos (biasa, lagi kena serangan pencitraan diri yang negatif). Saking semangatnya nungguin hari Senin (yang sangat jarang terjadi), saya bangun sebelum jam weker saya bunyi. Saya yang biasanya bangun jam 6 (dan adakalanya korupsi sampe setengah 7), bangun dengan sendirinya pukul 5. Ketap, ketip, guling sana, guling sini, tetep aja ga bisa merem lagi. Nasib saya mungkin. Dan setelah rutinitas bla, bla, bla, jam 7 saya sudah duduk manis di ruangan saya. Incredible moment! Saya sendiri takjub.
Buka inbox imel kantor, berencana mau mengirim imel ke konsultan HRD (karena ada file yang ketinggalan), ternyata setelah saya cek lagi, ya ampuuuun, semua file yang harusnya saya kirim kemarin Jumat, belum saya lampirkan. Bagooooos, dimana otak saya kemarin itu. Nevermind, saya kirim ulang lah. Susah amat. Toh konsultannya juga lagi di luar kota, ga mungkin juga cek imel. Urusan imel, beres. Cek lagi, ada kerjaan apa hari ini. Ternyataaaaa..kerjaan ringan. Semua tanpa deadline.. Lovely Monday..
Ngeblog aja lah bentar, udah lama ga update.
Semalem, saya berpikir apa ya yang buat saya ga bisa damai dengan semua mantan saya. Mantan yang berakhir dengan baik-baik aja ga bisa damai, apalagi yang berakhirnya dengan tidak baik.
Label: It's all about me
Label: It's all about me
“Kamu menarik, kamu pintar, kamu menyenangkan, kamu loveable, kamu memiliki segalanya. Tidak pernah ada cukup alasan untuk membuatmu merasa tidak pantas untuk dicintai,” begitu sahabat-sahabat sang Putri memberikan semangat. Mengembalikan rasa percaya diri yang tercecer. Sang Putri pun tersenyum, “Waktunya kembali membuka hati untuk Pangeran.”Label: It's all about me
Teman saya pernah menanyakan mau sampai kapan saya akan mbulet dengan pola saya. Dan saya tidak pernah bisa menjawabnya. Bukan saya tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki tepat dan baik hati yang mau menerima saya apa adanya. Saya mau. Teramat mau. Dulu pernah saya coba. Saya berhubungan dengan seorang yang lurus-lurus saja hidupnya. Baik sepertinya. Ketika saya sudah merasa dekat, mulai percaya padanya, mulai menggunakan hati, saya ceritakanlah padanya masa lalu saya. Dan, lelaki itu pun pergi begitu saja. Sakit hati lagi saya. Ya akhirnya ya begini-begini ini saya. Cari cara aman untuk tidak sakit hati, dengan sendiri saja (walaupun kesendirian itu luar biasa menyiksa saya, tapi kalau dibandingkan dengan berpasangan dan memiliki kemungkinan besar untuk sakit hati parah, saya milih sendiri dulu ajah..zona aman, huh..). Daaaaaaaaaan, lebih baik juga saya sendiri daripada saya nanti nyantol lagi sama lelaki-lelaki brengsek. Bodo lah orang bilang, “Ya ampuuun, mbak. Uda umur berapa..” Preeeeeeeeet..Label: It's all about me
Label: It's all about me
Saya, seorang perempuan dengan tampang sangar, bodi preman tapi berhati melankolis. Sangat mudah menangis di berbagai kondisi. Senang, saya menangis. Sedih, saya menangis. Marah, saya menangis. Bahkan takut pun, saya menangis. Intinya saya itu cengeng. Bagi orang yang baru pertama kali melihat saya menangis, pasti akan takjub. Air mata yang mengalir di wajah saya tampak sangat seksi. “Woooooo, mbaknya seksi pas nangis.” Ya iyalah, dengan adanya air mata di wajah saya, kesangaran dan kepremanan saya menjadi lebih manusiawi. Saya tampak seperti manusia biasa yang punya kelemahan (ciiieeeee..s.o.n.g.o.n.g dikit bole lah). Namun, air mata saya yang sering mengalir justru menjadi malapetaka ketika berhadapan dengan mantan pacar saya (waktu itu masih lah menjadi pacar saya). “Uda si, nangis mulu. Gampang bener si nangis.” Atau kalau tidak, ketika saya mulai mewek, ditinggal lah saya. Dibiarkannya saya menangis sendiri. Bosan mungkin para mantan-mantan pacar saya itu melihat air mata yang tidak pernah ada habisnya.
Saya tidak pernah malu mengakui saya itu mudah sekali meneteskan air mata. Dari air mata dengan kecepatan 10 mm/menit hingga 120 km/jam, saya bisa lakukan itu semua. Menangis sesunggukan, menangis tanpa suara hingga menangis dengan meraung-raung, saya ahlinya. Bagi saya, menangis dan air mata merupakan alat untuk mengeluarkan penat emosi yang paling aman dan berikut ini adalah alasannya:
1. Murah (saya tidak akan menulis tanpa biaya, karena setidaknya saya harus mengeluarkan uang untuk membeli tissue, ada orang yang kalau lagi bad mood, pengekspresiannya dengan belanja, susah kan, bayangkan berapa uang yang keluar setiap kali orang tersebut kalap).
2. Tidak terlalu merepotkan orang lain (biasanya kalau saya menangis kencang, saya hanya perlu dipeluk, kemungkinan yang terjadi: tangisan saya akan bertambah kencang atau justru mereda).
3. Mudah (karena saya bisa melakukannya di berbagai kondisi, tempat dan posisi, regulasi emosi saya berlangsung dengan baik, tidak perlu mengosongkan jadwal hanya untuk menangis).
4. Tidak menyakiti orang lain (bayangkan kalau saya memilih mengekspresikan kemarahan saya dengan memukuli atau memaki orang yang membuat saya marah, berapa banyak orang yang sudah saya sakiti).
5. Aman (saya cukup menangis, maka perasaan saya bisa plong, tangisan saya tidak disertai dengan perilaku aneh-aneh lainnya, seperti self injury atau percobaan bunuh diri dengan racun, obat tidur atau terjun dari mall).
Luar biasa bukan efek dari tetesan air mata yang mengalir di wajah saya? Air mata merupakan salah satu ciptaan empunya alam semesta yang luar biasa hebatnya dan sangat mengagumkan. Saya tergila-gila dengan satu hal ini. Saya memujanya. Thanks God. Namun, saya tidak bisa menangis sejak 3 bulan lalu.
Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, saya bisa menangis di berbagai kondisi. Tidak perlu menunggu momen sedih saja. Momen menyenangkan juga bisa membuat saya menangis. Namun tidak dengan kondisi saya saat ini. Ketika saya wisuda program magister saya, yang saya lalui dengan penuh pengorbanan (3x saya ikut ujian masuk UI, mental. Hingga akhirnya UGM menerima saya, kuliah yang melelahkan, menguras tenaga dan dompet, tesis yang berbelit-belit dan cobaan dimana pembimbing saya meninggal, semua mewarnai perkuliahan saya, hingga akhirnya saya bisa meraih predikat yang luar biasa bagi saya “CUM LAUDE”), saya justru tidak bisa menangis ketika seremonial wisuda tersebut berlangsung. Bahkan ketika prosesi angkat sumpah sebagai seorang psikolog, yang kata orang penuh dengan suasana haru biru, saya tetap tidak bisa menangis. Kemana air mata saya..?
Pergulatan hidup paska wisuda, sebagai job seeker, pencarian eksistensi diri di usia memasuki 30 tahun dan masih belum bisa berdiri di atas kaki sendiri, krisis percaya diri karena belum bekerja, keinginan memiliki pasangan, kerinduan melakukan aktivitas bersama pasangan, konflik dengan orangtua karena masih merepotkan mereka, jalan menuju cita-cita yang masih panjang, proses mencari kerja yang melelahkan dengan hasil tidak sesuai harapan hingga pertanyaan retorik terhadap kapabilitas diri, hanya mampu membuat dada saya sesak dan mata saya berkaca-kaca. Tidak cukup mampu membuat air mata mengalir di wajah saya. Kemana air mata saya..?
Momen senang, sedih, kemarahan yang awalnya dengan mudah membuat saya menangis, kini tidak lagi mampu menggerakkan otak saya untuk memerintahkan agar air mata saya turun. Hanya meninggalkan rasa sesak di dada saya. Gosh, I hate this situation. Air mata yang membantu saya untuk meregulasi emosi agar saya tetap berfungsi sepenuhnya, air mata yang bertugas menguras emosi negatif dalam tangki emosi diri saya, air mata yang mendampingi saya di berbagai peristiwa, saat ini sedang pergi entah kemana. Ada yang hilang dalam diri saya. Ketika tulisan ini saya buat, dorongan menangis sangat besar, namun seperti biasa, dorongan tersebut terhenti. Sekali lagi, meninggalkan kesesakan.
Label: It's all about me
Label: It's all about me
Saya sedang dihantui penyakit satu itu..ketakutan berlebihan dan irasional.. Menjadi seorang psikolog bukan jaminan saya akan terhindar dari penyakit macam-macam.. Justru, kepsikologian saya mengiring saya untuk merasakan beraneka ragam psychological disorder..
Salah satu teman dekat saya berkomentar bahwa saat ini saya sedang mengalami distorsi kognitif. Otak saya sedang terkena arus pendek, korslet dan jadinya mendistraksi cara berpikir saya. Diantaranya:
Label: It's all about me
Label: It's all about me
Tidak mudah membuang arsip-arsip brengsek itu tanpa jejak, karena begitu banyak cerita menarik bila arsip tersebut dibaca kembali. Mengingatkan pada jejak masa lalu. Namun ketika jejak tersebut hanya menghambat jejak saya untuk maju, untuk apa? Toh semuanya sudah usai, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain merelakannya lepas dari diri saya. Kedinamisan hidup saya menuntut saya untuk terus bergerak dan tidak memungkinkan untuk terjebak di satu titik. Begitu banyak titik yang harus saya tuju untuk sebuah pembelajaran kehidupan. Ketika kenangan membuat saya berat melangkah dari satu titik ke titik lainnya, untuk apa saya terus bawa? Label: It's all about me
" Hai, tubuh.. Apa kabar? Lama ternyata ya kita ga saling ngobrol. I miss u. Thanks for everything. Buat menemaniku di setiap waktu. Buat mendukungku di setiap kondisi. Buat tidak merepotkanku selama 28 tahun ini. Anyway, aku mau kasih daftar terimakasihku. Tolong disebar ya..
- Kepala dan otak, thanks untuk ide-ide cemerlangnya..ide-ide gila dan unik.
- Mata, untuk pemandangan indahnya..termasuk juga lelaki-lelaki gantengnya..dan untuk pemandangan mengenai penderitaan yang membuatku belajar banyak tentang hidup.
- Hidung, untuk aroma wangi dan bau busuk di suatu kondisi. Membuatku tahu mana aroma yang aku suka. Dan untuk udara yang aku hirup serta nafas yang aku hembuskan.
- Bibir dan mulutku, untuk kecupan-kecupan indah yang kurasakan dan pembicaraan-pembicaraan menyenangkan yang telah aku lalui.
- Tanganku, untuk membantuku menyelesaikan banyak hal. Menulis, mengetik, membantuku makan dan juga untukku melakukan hobiku, membersihkan hidung.
- Jantungku, untuk membuatku bisa merasakan getaran senang, sedih, cemas, takut dan juga gembira. Membuatku tetap hidup dengan detaknya.
- Pembuluh darah dan otot-ototku..untuk segalanya yang terus membuatku tetap bertahan.
- Perut dan organ dalamku, untuk menampung semua yang aku makan dan mengolahnya menjadi sesuatu berarti untuk kehidupanku.
- Kakiku, untuk menemaniku berjalan, berpetualang, merasakan betapa seksinya high heels itu, menekan gas, kopling, rem dan juga untuk kram sesekali yang menyadarkanku agar aku mengistirahatkanmu.
Terimakasih untuk semuanya. Tak mungkin aku akan bertahan tanpa kalian semua. Dan, maafkan, aku terlalu sering mengabaikan kalian, juga karena aku tidak mengajak kalian berbincang. Maafkan..."
Label: It's all about me