10.31.2012

Kapan Kawin...?

“Denda 100jt lo nanya begonoan!’ cerita seorang teman berkisah tentang seringnya pertanyaan itu muncul. Kisah sama juga saya alami. Namun seringnya, sebelum orang nanya, saya yang nanya duluan, “Kapan ini saya kawin…?” Salah juga jadinya, karena biasanya orang yang saya tanya justru semakin panjang komennya. Mbulet aja ga selesai-selesai.

Kawin atau nikah (tergantung kita suka yang mana) jadi topik menarik (yang cenderung mengkhawatirkan) di usia saya yang sudah kepala 3 (ketauan kan, tua). Kenapa menarik? Karena bagi orang-orang, menyenangkan menggunjingkan status lajang saya, “Percuma, ayu, pinter, sugih, tapi ora payu-payu.” (Percuma, cantik, pintar, kaya tapi ga laku-laku). Atau menjadi mengkhawatirkan, karena mulai menjadi tuntutan dari keluarga (ibu terutama), Mbok ya kalau punya pacar jangan disimpen sendiri, dikenalin lah. Hadeuuuuuuuh…

Saya ingat, dulu, ketika usia saya di pertengahan 20, lagi semangat-semangatnya jadi pegawai, saya minta dikenalkan dengan anak kolega orangtua yang sosialita gitu deh. Eh, mak saya komennya begini : Jodoh ga usah dicari. Ga usah khawatir. Umur masih seiprit ini.  Nah ini, mak saya juga yang bingung: Kenapa anak gue belon kawin-kawin umur segini. Nyesel kali ya mak saya dulu ga mau nyariin jodoh buat saya.

Kamu aja yang kebanyakan milih, kebanyakan mau, kebanyakan mikir, makanya ga kawin-kawin.Itu komentar paling banyak yang ditujukan ke saya. Apa iya begitu?


  • Kalau milih, ya iya lah saya harus milih. Secara ini hingga maut memisahkan katanya. Kalau ga milih, tunjuk aja sembarang orang, diajak kawin, selesai.
  • Masalah mau, ya iya lah saya punya serangkaian mau. Momen sekali seumur hidup. Masa maunya orang yang saya pakai buat momen once in a life itu.
  • Kebanyakan mikir, nah ini yang susah. Karakter zodiac saya bilang saya itu suka mikir. Memang begono ternyata.
Merasa agak sedikit berlebihan dengan respon saya terhadap masalah nikah atau kawin ini, saya dengan kesadaran penuh berkonsultasi lah dengan para psikolog senior. Hasilnya adalah satu hal, SAYA MEMANG BELUM SIAP untuk mengarungi bahtera rumahtangga katanya. Percuma juga nanya apa yang bikin saya belum siap, karena jawabannya nanti akan membentang dari Sabang sampai Merauke. Jago ngeles begini soalnya.

Saya suka bingung kalau orang nanya “Kapan kawin?”. Bukan bingung jawabnya, tapi bingung kenapa sih orang mau tau aja kapan saya kawin. Memang kalau saya kawin, yang nanya itu mau ikut bayarin? Nanti kalau saya sudah kawin, ditanya lagi, “Kapan ini momongannya?”. Sudah punya momongan, “Kapan ini adeknya dibikin?”. Sudah ada adiknya, ditanya lagi, “Kapan mantu?”. Kapan coba selesainya mereka nanya. Daripada mereka sibuk nanya kapan saya kawin, mending banget mereka berdoa supaya saya cepet kawin. Habis saya kawin, mereka berdoa saya cepet punya momomgan. Dan seterusnya. Lebih bermanfaat bukan? Ga usah banyak nanya, langsung ke tindakan. Begono yang bener.

Sejauh ini, saya menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan kapan kawin ini tanda kepedulian mereka pada saya. Walaupun sepertinya sebentar lagi masuk pada tahap gangguan. Hanya saja, kalau orang-orang berhenti bertanya kapan kawin, saya pasti akan merasa kehilangan. Sebuah paradoks. Ya begitu lah hidup saya, penuh dengan paradoks. Dinikmati, disyukuri. Kalau kata Indy Barends di akun perburungannya, “Mata berat, badan berat, santeeeeeey. Asal hidup jangan dirasa berat.” 

Kalau ditanya, "Kapan kawin?", dijawab, "Santeeeeeey..."

6.08.2011

Last 10 months

Sudah lama ga nulis. Pas lagi jalan ke blog si bungsu, kok tiba-tiba jadi kangen nulis. Dan ternyata posting terakhir saya Agustus tahun lalu. It means 10 bulan sudah virus malesa indonesiana bermukim di tubuh saya. Sambil nyolong-nyolong waktu dan memanfaatkan fasilitas layar datar serta akses internet kantor, posting satu tulisan sebentar. Ini juga demi keberlangsungan kreativitas otak plus memenuhi pesanan dari kelompok penggemar (meskipun cuma kumpulan teman kos jaman sarap dulu). 

And the story begins..
PEKERJAAN

Ada kemajuan dalam kehidupan profesional saya sebagai karyawan. Saya punya dua asisten yang membantu pekerjaan saya. It means, tanda tangan saya laku meskipun sekedar menandatangani surat ijin keluar atau surat ijin tidak masuk asisten saya. Teman gila pada sibuk komentar: “Bos, bos, bos”. Atau kalau ga ya pada komen: “Kok enak uripmu, duwe asisten”. Hohohohoho, it’s life. Boleh lah ngerasain gimana rasanya punya asisten.Tapi ternyata, memiliki asisten tidak semudah yang saya bayangkan. Tidak seindah yang saya harapkan. Cukup kompleks masalahnya. Dari  tugas yang terlalu banyak, ketidakpuasan salary sampai protes karena perhatian berkurang gara-gara ibu bos sibuk mencari cinta katanya. Efeknya juga bervariasi, dari ga ngefek apa-apa, sedikit rasa pusing sampai berat rasanya ngantor gara-gara satu ruangan dengan para asisten.

Menyandang peran sebagai atasan membutuhkan penyesuaian yang cukup menantang. Terutama memperlakukan mereka setara dengan kita. Adakalanya dorongan kesongongan yang sok jadi bos muncul, suka ngerasa “Ah, kan elu bawahan gue. Suka-suka gue dong nyuruh elu model kaya gimana. “ Untungnya suka muncul juga pikiran gimana coba rasanya kalau kita dapat perlakuan itu. Sakit hati dong, pasti lah. Walau kadang masih sesekali suka seenaknya sendiri nyuruh-nyuruh, setidaknya jarang lah perlakuan tidak manusiawinya.

Belum lagi masalah satu ruangan bersama mereka. Bukan apa-apa, hanya saja saya masuk kategori orang yang – ga mungkin banget bisa menyembunyikan perasaan hati apapun itu bentuknya – Jadi, adakalanya saya merindukan kesendirian saya dulu sebelum mereka datang, terutama kesendirian kalau pengen crying. Hehehehehehe.

Namun apapun itu, saya menikmati kondisi saya sekarang ini. Saya bersyukur dengan kehadiran para asisten saya. Sangat membantu pekerjaan saya. Konflik merupakan hal biasa yang oleh para positivis dikatakan sebagai sarana untuk pengembangan. Ngikut deh ngikut. Daripada pusing gitu kan.
 
SOSIAL

Ada kemajuan juga. Sekarang saya punya partner buat sharing, brainstorming atau sekedar buat ngopi-ngopi tanpa berkata apa pun. Duduk manis di warung kopi. Ngelamun sendiri-sendiri atau ya liat-liatan kaya anak SMU. Ini juga butuh penyesuaian. Kelamaan ngapa-ngapain sendiri, eh sekarang ada temennya. Biasanya mau pergi kapan aja suka-suka hati, sekarang ya tetep sih suka-suka hati. Hehehehehe. Yang membedakan adalah saya sekarang ga perlu pakai bingung kalau mau ngapa-ngapain. Yang pasti juga, keluhan tentang makan sendiri, nonton sendiri, main sendiri berkurang. Kecuali kalau partnernya lagi sibuk, ya perkara lain. Sekali lagi, disyukuri. Syukur, syukur. Karunia dan berkat bukan. Diterima, dirawat dan dinikmati. Mengingat saya seorang pribadi yang – ga mungkin dong hidup sendiri, bisa mati bunuh diri nanti –
 
KESEHATAN DIRI

Untuk pertama kalinya saya rawat inap di rumah sakit. Namanya juga perantauan, karena ga ada yang ngerawat, ya sudah, sewa tenaga profesional di rumah sakit. Mumpung dibayarin kantor (walau pada akhirnya plafon dari kantor ga cukup, tetep aja nombok). Jadi tahu rasanya opname. Yang ga enak banget ternyata memang. Super duper ikan boring. Pengen pulang aja bawaannya (keinginan pulang diperkuat dengan harga rumah sakit yang bener-bener sialan mahalnya).  Bosen, bosen, bosen. Belum lagi intervensi ga penting yang keliatan banget buat nambah pemasukan rumah sakit. Dan jadi bete dong pasti. Mana diagnosisnya ga penting lagi. Bukan ga penting sebenernya, cuma bikin malu aja sih. Hehehehehehe. Tapi, tetep aja ada sisi mengharukan atas kepedulian orang-orang yang rela menyisihkan waktu buat nengokkin.

Dua malam di rumah sakit, tiga hari pemulihan di kos, dijenguk mama. Total lima hari absen kerja. Banyak kerjaan yang terbengkalai. Eh, lha kok satu bulan berikutnya absen kerja lagi lima hari karena sakit juga. Yang ini diagnosisnya lebih ga penting. Lebih bikin malu. Gara-gara bisulan. Masalahnya, si bisul ini nongkrongnya di pantat. Dan besarnya ampun-ampun. Boleh dibilang, ini bisul paling mahal yang saya tahu. Melibatkan satu spesialis bedah, dua spesialis anestesi, antibiotika yang ga murah, narkotika yang dikonsumsi setiap hari plus rawat inap sehari. Belum lagi masalah yang dimunculkan karena tempatnya yang tidak strategis dan painful. Saat-saat ganti perban yang bikin teriak-teriak plus nangis. Urusan buang hajat yang ga sepuas biasanya. Malah kalau bisa ga usah buang hajat biar ga perlu ganti perban. Mandi yang ga bisa bebas. Dan berat badan yang nambahnya ga kira-kira karena ga ada aktivitas fisik sama sekali yang dilakukan, padahal makanan full gizi masuk teratur 3x sehari. Merepotkan dan menyakitkan. Kurang sedekah katanya, ga masuk gara-gara sakit kok dua kali berturut-turut dalam dua bulan. Ga enak ati, sumpah deh.
 
KELUARGA

Berat rasanya untuk yang satu ini. Dan saya pun berpikir saya masih belum sanggup untuk menuliskannya di sini. Masih dalam tahap mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tentang orang yang sangat berarti bagi saya. Dan cobaan yang harus dihadapinya. Tidak pernah terbayang dalam benak saya hidup saya tanpanya. Saya hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya. Too much love him.
 

SAAT INI

Tetap dengan mimpi dan usaha mewujudkannya. Mendewasakan diri. Menikmati hidup. Mensyukuri karunia. Berserah.

Tidak merepresentasikan sepenuhnya kehidupan saya 10 bulan terakhir, tapi setidaknya sedikit mengobati kangen saya untuk menulis. Sebenernya lebih ke kangen buat eksis. Hehehehehe.

pinjem gambar dari www.gettyimage.com

8.30.2010

Mas-masnya, Baikan Yuk..

Welcoming Mondaaaaay..:)

Sumpah, semalem saya berharap hari Senin cepet si datengnya. Saya mati sumpek di kos (biasa, lagi kena serangan pencitraan diri yang negatif). Saking semangatnya nungguin hari Senin (yang sangat jarang terjadi), saya bangun sebelum jam weker saya bunyi. Saya yang biasanya bangun jam 6 (dan adakalanya korupsi sampe setengah 7), bangun dengan sendirinya pukul 5. Ketap, ketip, guling sana, guling sini, tetep aja ga bisa merem lagi. Nasib saya mungkin. Dan setelah rutinitas bla, bla, bla, jam 7 saya sudah duduk manis di ruangan saya. Incredible moment! Saya sendiri takjub.

Buka inbox imel kantor, berencana mau mengirim imel ke konsultan HRD (karena ada file yang ketinggalan), ternyata setelah saya cek lagi, ya ampuuuun, semua file yang harusnya saya kirim kemarin Jumat, belum saya lampirkan. Bagooooos, dimana otak saya kemarin itu. Nevermind, saya kirim ulang lah. Susah amat. Toh konsultannya juga lagi di luar kota, ga mungkin juga cek imel. Urusan imel, beres. Cek lagi, ada kerjaan apa hari ini. Ternyataaaaa..kerjaan ringan. Semua tanpa deadline.. Lovely Monday..

Ngeblog aja lah bentar, udah lama ga update.

Semalem, saya berpikir apa ya yang buat saya ga bisa damai dengan semua mantan saya. Mantan yang berakhir dengan baik-baik aja ga bisa damai, apalagi yang berakhirnya dengan tidak baik.

  1. Pacar SMU, saya putuskan dengan alasan bosan. Dia tidak mau menyapa saya hingga detik ini. Keberadaannya dimana, saya juga ga tau.
  2. Pacar pertama waktu kuliah, alesannya sama, saya bosan. Masuk rumah sakit karena OD (gara-gara saya katanya). Ini juga sama. Dia membenci saya. Ilang juga ditelan bumi. Di semua jejaring sosial, dia ga ada. Padahal setau saya dia cukup eksis sebelumnya.
  3. Pacar kedua waktu kuliah, nah, yang ini baru aja saya ketemu lagi di F***book. Ternyata udah punya bini dan satu anak. Setelah putus dulu, dia juga ogah ketemu saya, ogah ngomong sama saya. Ogah lah deket-deket dengan apapun yang ada bau-baunya saya. Baru aja di jejaring sosial itu saya ngobrol-ngobrol, itupun cuma bentar aja.
  4. Pacar ketiga waktu kuliah, setelah putus, mas mantan yang ini langsung punya pacar lagi dan meninggalkan saya dalam lembah patah hati selama 2 tahun. Saya si pengennya tetep bisa bertemen meskipun putus, tapi pacar mas mantan ini sakit jiwa. Ga ngebolehin mas mantan berhubungan dengan mantan-mantannya, terutama saya. Setelah mas mantan ini putus sama pacarnya yang sakit jiwa, baru deh saya bisa bertemen baik. Dan itu butuh waktu 4 tahunan. Saya heran, mas mantan saya ini betah amat ya pacaran sama perempuan sakit jiwa gitu.
  5. Pacar keempat waktu kuliah,nah ini, mantan favorit saya. Putus baik-baik saya yang pertama. Karena sifatnya yang baik-baik, hubungan paska putus juga damai sejahtera. Bahkan, beliau mengundang saya ketika menikah. Menjadi sangat tidak baik setelah beliau menikah. Katanya si gara-gara blog saya. Tulisannya mendeskreditkan bliau (menurutnya) dan sangat mengganggu. Psychological war lah akhirnya. Hingga detik ini. Mungkin, kalo bliau bertemu saya secara tidak sengaja, bisa terjadi huru-hara pasti.
  6. Pacar terakhir saya. Sangat tidak baik berakhirnya. Menyisakan revenge di hati saya. Walopun sudah saya kurangi revenge'nya, ga juga ngefek, mas mantan yang terakhir ini uniknya setengah mati. Terakhir bertemu dengannya saya pikir akan mampu memperbaiki perang dingin antara saya dan dia. Tapi kok ya sama aja. Kalo saya telpon, ga diangkat. Saya sms, ga dibales. Hadaaaaah.. Mau saya nanya apa aja, ya cuma kaya ketemu tembok gitu.
Saya suka iri sama temen-temen yang tetep bisa baik-baik aja sama mantan-mantan mereka. Gimana ya caranya..? Okelah, buat para mantan saya yang tersakiti oleh saya, mungkin mereka emang sakit ati mampus, tapi masa si sampai sekarang? Masa si ga bisa baikan gitu..? Tapi, kalo mas mantan yang terakhir, apa alesannya? Dia kegeeran kali ya saya masih menyimpan rasa dan menginginkannya kembali (duluuuuu, pernah si saya ngajak balikan) tapi sekarang kan ga lagi. Ya emang si, saya belum punya pacar, emang si saya masih suka kangen sama dia, tapi kan saya udah ga berharap lagi. Saya ga tau lagi deh apa alesannya. Kalo lagi kena serangan pencitraan diri negatif kaya semalem, pikiran ga penting kaya yang saya tuliskan ini bisa memicu keinginan bunuh diri. Naek pemancar tivi, bluuup, terjun deh. Terus saya hantui lah mantan-mantan saya yang susah banget buat diajak damai. Saya kejar terus sampai mereka bilang alesan sebenernya ga mau damai sama saya. Kalo udah nemu, baru saya bisa damai dan naik ke surga (ga mungkin kayanya, secara matinya bunuh diri).

Mungkin saya memang jatahnya masuk dalam kategori yang ga bisa damai sama mantan (mau gimana pun model putusnya, mau seberapa lamanya kisah itu usai). Sahabat saya juga suka gregetan sama saya, kenapa juga saya suka bener ngebahas hal ga penting kaya begini yang pada akhirnya cuma bikin saya kena serangan mood disorder yang ditambahi cognitive disorder. Saya juga ga tau, kenapa yaaak..?

picture was taken from http://www.gettyimages.com

6.27.2010

My Confession


Beberapa hari lalu, kantor saya mengadakan sebuah pelatihan. Pengisi materinya adalah seorang yang katanya pinter (banget) dengan gelar super panjang plus aneh di belakang namanya yang menurut saya susah buat dilafalkan. Sesusah yang punya gelar sepertinya. Berjenis kelamin lelaki, yang sebenarnya cukup good looking andai saja dia tidak bertingkah super duper menyebalkan. Saking nyebelinnya, dia sukses membuat saya menangis. Huhuhuhuhuhu, agak susah mengakui saya menangis gara-gara dia. Tapi ya memang begitu adanya.

Mr. Smart Guy ini entah kenapa doyan banget ngegangguin saya dengan mempermalukan saya di depan forum. Ini deretan ceritanya:

First meeting. Latar belakang pendidikan saya kurang memadai dengan posisi pekerjaan saya saat ini. Jadi saya bilang ke Mr. Smart Guy untuk jangan berbicara terlalu cepat, supaya saya bisa memahami materi dengan baik. Karena saya tau persis, materi yang dibawakan Mr. Smart Guy ini susah. Sebelum pertemuan ini, saya mencoba membaca bukunya, tapi ya ga paham-paham. Jadi menurut saya, ini materi sulit. Eh, ternyata, permintaan saya sebagai efek kekurangan saya diekspose di forum tersebut. Untung cuma ada 8 orang, saya bisa lah mesam mesem. Ketawa ketiwi. Tidak masalah. Baiklah, biarkan saja Mr. Smart Guy ini bertingkah.

Second meeting. Saya ga request apa-apa (seinget saya). Tapi, lagi-lagi, Mr. Smart Guy ini iseng gitu aja ngebawa-bawa saya dengan sindiran-sindirannya di depan forum. Sekali lagi, untung, cuma ada 8 orang. Ga gitu berasa lah. Termasuk juga sindiran-sindirannya paska meeting. Ya sudah, biarkan. Mungkin Mr. Smart Guy terlalu pintar, sampai-sampai tanki otaknyanya luber-luber. Semua-semua dikritikkin.

Third meeting. Ini dia yang jadi bencana!!! Ya pelatihan yang membuat saya menangis. Sebagai new comer, jadilah saya EO, sendirian, semua serba saya sendiri yang lakukan. Tanggungjawab segitu banyaknya dengan wewenang yang belum jelas. Gimana lah caranya supaya pelatihan dengan 30an peserta yang rata-rata punya jabatan oke ini berlangsung sukses. Ada beberapa orang yang saya amati, mencari celah kelemahan dan kekurangan saya. Jelas dong, saya berusaha seoptimal mungkin buat meminimalkan itu, biar orang-orang itu ga akan mendapatkan mau mereka dengan mudah. Eh, eh, eh, eh, lhah, kok Mr. Smart Guy ini yang bikin gara-gara. Ini ni kalimat yang muncul dari Mr. Smart Guy yang menciptakan bencana buat saya:“Harusnya ini ada print outnya (materi yang sedang dia bawakan) sebagai panduan kita.” Jelas lah, kalimat Mr. Smart Guy barusan itu memancing dua pejabat tinggi kantor saya untuk menegur saya serta merta saat itu juga. Pertama, teguran dari GM saya, disusul teguran dari CEO saya. Saat itu juga, di depan forum dengan 30an peserta. Ini teguran mereka:“Harusnya ini sudah ada dari kemarin, bukan sekarang baru mau diprint.” Apesnya lagi, dua orang bos saya itu suaranya pada kenceng semua. Hadaaaaaah, rasanya saya mau mati. Panas semua wajah saya. Panas menahan marah. Gimana ya ga marah, PERTAMA, itu bahan yang HARUSNYA DICETAK UNTUK PANDUAN PESERTA, tidak sekalipun diberikan kepada saya filenya apalagi informasi bahwa itu harus dicetak untuk para peserta. Info itu baru saya dengar ya pas pelatihan. Kenapa juga ga dari kemarin-kemarin gitu kan. KEDUA, ternyata bahan yang Mr. Smart Guy bilang harus ada cetakannya, ga perlu-perlu amat buat dibagi ke seluruh peserta. Cukup para orang-orang tertentu di jajaran top management. Hadaaaaaaaaaaaaaaaah, pengen nimpuk sepatu saja saya ini. Sudah, sudah, slow, sekarang minta filenya, segera dicetak. Asistennya ternyata ga punya dong filenya. Ya sudah, saya mau minta langsung sama Mr. Smart Guy. Eh, asistennya bilang kalau Mr. Smart Guy itu tidak suka diinterupsi kalau sedang presentasi. Hadaaaaaaaaah, rewelnya Mr. Smart Guy ini. Terpaksalah saya menunggu beliaunya ini selesai presentasi sambil menahan emosi. Begitu selesai, saya mintalah filenya, dengan marah-marah lah. Ketika saya buka, format filenya tidak kompatibel dengan format komputer yang ada di kantor saya. Harus diedit dulu. Hadaaaaaaaaaah, kemrungsung lah saya. Secara, saya diburu-buru untuk menyediakan file tersebut secepatnya. Lhah, pas saya lagi melihat layar komputer saat mengedit file tersebut, kok air mata saya meluncur. Pertama-tama masih pelan. Lhoh, lhoh, lhoh kok lama-lama tambah deres tambah deres tambah kenceng. Panik lah saya. Gimana ini, gimana ini. Ya sudah lah, mau gimana lagi. Hapus saja air matanya. Kembali ke ruangan dan bersikap seolah-olah saya tidak menangis. Tapi tetap aja, ketauan, lha mata saya sembab. Bodo lah. Sepanjang sisa pelatihan, saya sewot aja bawaannya. Semua semua kena semprot.  Kalau misalnya pembunuhan itu legal, saya orang pertama yang akan melakukannya dengan target utama Mr. Smart Guy. Seusai pelatihan yang menguras tenaga, saya perlu menenangkan diri sejenak untuk meregulasi emosi saya. Setelah cukup tenang, saya sms Mr. Smart Guy untuk menanyakan bisa ga ya kira-kira tingkahnya yang menyebalkan itu tidak terulang lagi. Beliau menjawab dengan permintaan maaf dan katanya ga akan gitu lagi. Eh,tapi buntut-buntutnya Mr. Smart Guy membahas tentang saya menangis. Kok ya dia tau ya.. Saya ngeles lah, sesusah apapun saya ngeles, saya tetap harus ngeles. Biar keliatan banget maksa, tetap aja saya kekeuh bilang saya ga nangis. Malu lah, bo..

Agak berlebihan kayanya reaksi saya, tapi entahlah, saya paling ga suka ketika saya ditegur di depan umum untuk sesuatu kesalahan yang bukan saya lakukan. Ditambah, saya tidak bisa membela diri saat itu juga. Ditambah lagi, itu dilakukan di depan beberapa orang yang saya tahu benar menginginkan saya celaka. Mungkin itu lah dunia kerja yang sebenarnya, saya perlu beradaptasi dengannya. Seperti yang Mr. Smart Guy bilang, saya masih anak kemarin sore. Anak kemarin sore yang harus belajar banyak bahwa teman dan lawan sangat tipis bedanya. Anak kemarin sore yang harus belajar bahwa air mata tidak akan merubah apapun. Tapi, saya juga anak kemarin sore yang akan lakukan apapun untuk mempertahankan apa yang menjadi hak saya. Saya, anak kemarin sore yang tidak akan diam saja ketika seseorang dengan seenaknya menginjak harga diri saya. Saya, anak kemarin sore yang akan tetap mempertahankan keseimbangan hidup.

Working life lesson learned huh..? Whatta life..  I have to learn about working life more more more more and more.. Saya tidak akan membiarkan air mata saya kemarin sia-sia.. Selalu ada yang harus didapatkan dari semua lara yang tercipta..








6.01.2010

The Princess



Sang Putri menangis. Air mata yang tertahan akhirnya meluncur deras semalam. Pagi ini pun, sang Putri masih menangis walaupun tidak sekencang tadi malam. Hati sang Putri terluka sekian kali. Tidak pernah terbersit dalam benak sang Putri untuk membiarkan hatinya kembali tersakiti oleh apa yang orang bilang itu cinta. Hati itu sudah cukup lama terlindungi, luka itu sudah kering sepertinya, maka sang Putri pun mencoba kembali mengenalkan hatinya pada sebuah rasa yang menciptakan kehidupan, hasrat dan keindahan. Terpuruk dalam sebuah paranoid, self blamming dan rasa tidak percaya diri cukup membuat sang Putri jengah. “Tidak baik untuk hatiku,” ujar sang Putri. Dan sang Putri dengan susah payah kembali berdiri dari keterpurukan itu.  

“Kamu menarik, kamu pintar, kamu menyenangkan, kamu loveable, kamu memiliki segalanya. Tidak pernah ada cukup alasan untuk membuatmu merasa tidak pantas untuk dicintai,” begitu sahabat-sahabat sang Putri memberikan semangat. Mengembalikan rasa percaya diri yang tercecer. Sang Putri pun tersenyum, “Waktunya kembali membuka hati untuk Pangeran.”

Kali ini, sang Pangeran berdiri di sana. Dengan segala kemapanan hidup. Kematangan pribadi. Pesona diri. Kejantanan lelaki. Sang Pangeran tersenyum, dan sang Putri tahu, hatinya telah tertambat. Tak lama sang Pangeran pergi. Entah mengapa, sang Putri merasa gelisah. Tidak lama, kegelisahan sang Putri terjawab. “Apakah aku memenuhi kualifikasinya? Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Apa aku cukup berharga untuknya?” sang Pangeran berkata pada seorang sahabat sang Putri. Seribu satu jawaban yang diberikan sahabat sang Putri pada sang Pangeran tidak cukup mampu membuat sang Pangeran sadar bahwa hati sang Putri telah tertambat padanya. Dan sang Pangeran pun pergi, meninggalkan sang Putri yang kembali terluka. Hanya saja kali ini, ada air mata di wajah sang Putri.

5.23.2010

Let Me


Saya kembali bertemu dengan sahabat lama yang hilang empat tahun lalu. Bertemunya pun lewat FB dan kemudian kami berkomunikasi melalui telepon. Sahabat saya menghilang karena hantaman luar biasa dalam kehidupan keluarganya. Suaminya berselingkuh tapi sahabat saya yang diperkarakan. Sahabat saya akhirnya bercerai dan mengalami masa-masa suram paska perceraiannya hingga harus menarik diri dari peredaran a.k.a menghilang. Kemudian kemarin saya bertemu dengannya untuk menghadiri acara lamarannya. Kami pun bercerita banyak, terutama tentangnya empat tahun terakhir.

Tidak dipungkiri, hati sahabat saya tidak lagi memproduksi rasa. Bahkan ketika memutuskan untuk berpacaran dengan lelaki (yang baru saja melamarnya kemarin), sahabat saya tidak memiliki rasa apapun terhadap lelaki tersebut.

Sahabat Saya yang Hilang (SSH): “ Dia yang ngajakin pacaran. Lagipula lumayan juga, ada temen ngobrol, crita, maen. Kebutuhan aja. Tapi hati, ga ada rasa waktu itu.”
Saya (S): “Trus butuh waktu berapa lama sampai muncul rasa?”
SSH: “Delapan bulan. Pas dia dateng ke rumah buat lebaran. Di situlah aku ngliat dia srius sama aku. Dia, yang belum pernah menikah, seumur denganku, mau sama aku, janda anak satu.”

Ternyata, selama delapan bulan di awal mereka berpacaran, sahabat saya tidak memiliki rasa, bukan karena sahabat saya tidak menyukai lelaki yang menjadi calon suaminya saat ini, tetapi sahabat saya MEMANG menutup rasa itu karena rasa tidak percaya diri terhadap statusnya janda anak satu. Pemikiran bahwa “Ga mungkin lah dia srius sama aku, paling juga cuma buat maen-maen aja,” atau “Lelaki, kalo macarin janda, ya paling begitu-begitu aja tujuannya. Toh, aku juga butuh, asas manfaat aja lah,” kerap datang di benak sahabat saya saat itu. Jadi, sampailah pada sebuah keputusan, sahabat saya tidak menggunakan hati selama awal masa pacarannya untuk meminimalkan sakit hati kalau-kalau hubungannya berakhir. Saya tergelitik dengan cerita sahabat saya. Bukan apa-apa, saya sedang berada di fase yang sama seperti sahabat saya dulu. Sedang menutup hati untuk meminimalkan sakit hati.

Saya memiliki kecenderungan dekat dengan lelaki-lelaki yang masuk dalam kategori Bad Guy. Ya jelas lah, hubungan-hubungan yang saya jalani dengan para lelaki tersebut pastinya porak-poranda tak bersisa. Hal yang dari dulu berusaha saya cari latarbelakangnya namun belum juga ketemu sampai saya berbincang dengan sahabat saya, MENGAPA SAYA SERINGNYA BERHUBUNGAN DENGAN PARA BAD GUY????  Ternyata oh ternyata, ada kaitannya dengan masa lalu saya. Masa lalu saya bukanlah masa lalu yang bisa diterima dengan mudah oleh para lelaki terutama lelaki dengan latar belakang lurus-lurus saja. Lha seringnya, lelaki-lelaki brengsek saja kadang kalau cari istri sok-sokan cuma mau sama perempuan baik-baik. Apalagi lelaki yang baik-baik saja hidupnya, ya wajar kalau mencari istri yang minimal sama baiknya lah dengan mereka. Taruhlah contoh, ya kaya kasus twitter seorang motivator tempo hari itu (saya lupa isi pasti twitternya): “Perempuan yang merokok, suka dunia malam, chit chat snob, bukan kriteria istri yang baik.” Kalau seorang motivator kondang yang harusnya netral saja bersikap seperti itu, apalagi para lelaki yang bukan motivator dan tidak kondang. Pastilah sebelas duabelas pikiran mereka dengan motivator tersebut tentang perempuan yang ideal sebagai calon istri. Terjadilah proses labeling yang subyektif. Daripada nanti berhubungan dengan lelaki baik-baik yang memunculkan kecenderungan untuk bermasalah dengan masa lalu saya, ya lelaki brengsek tampak lebih masuk akal. Pemikiran simpel, sederhana (tapi sangat merusak).


Teman saya pernah menanyakan mau sampai kapan saya akan mbulet dengan pola saya. Dan saya tidak pernah bisa menjawabnya. Bukan saya tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki tepat dan baik hati yang mau menerima saya apa adanya.  Saya mau. Teramat mau. Dulu pernah saya coba. Saya berhubungan dengan seorang yang lurus-lurus saja hidupnya. Baik sepertinya. Ketika saya sudah merasa dekat, mulai percaya padanya, mulai menggunakan hati, saya ceritakanlah padanya masa lalu saya. Dan, lelaki itu pun pergi begitu saja. Sakit hati lagi saya. Ya akhirnya ya begini-begini ini saya. Cari cara aman untuk tidak sakit hati, dengan sendiri saja (walaupun kesendirian itu luar biasa menyiksa saya, tapi kalau dibandingkan dengan berpasangan dan memiliki kemungkinan besar untuk sakit hati parah, saya milih sendiri dulu ajah..zona aman, huh..). Daaaaaaaaaan, lebih baik juga saya sendiri daripada saya nanti nyantol lagi sama lelaki-lelaki brengsek. Bodo lah orang bilang, “Ya ampuuun, mbak. Uda umur berapa..” Preeeeeeeeet..

Saya hanya akan menunggu lelaki yang tepat saja kalau begitu. Yang baik hati dan tidak sombong. Yang mau menerima saya apa adanya. Yang berpikir sejuta kali untuk menyakiti hati saya. Yang open mind. Yang nanti akan datang untuk membuka kembali hati saya. Dan tentunya yang bisa betah sama rewelnya saya.

(sebuah tulisan sebagai imbas PMS)

5.10.2010

Jogjakarta

Saya meninggalkan Jogja. Kota dimana saya menghabiskan empat tahun terakhir kehidupan saya. Dimulai dari sebuah bencana berskala nasional yang penuh air mata hingga seremonial wisuda paska sarjana yang gegap gempita. Empat tahun menorehkan begitu banyak cerita. Menyenangkan, menyedihkan, menggembirakan, menyebalkan hingga yang tak terdefinisikan. Mulai dari banyak duit, bergaya hura-hura hingga kejadian ngesot tanpa uang sepeserpun di dompet, dibelain ngutang dan menjual diri hingga Cilacap. Diawali dengan Marlboro Light Menthol, Lucky Strike Menthol, Avolution Menthol dan pada akhirnya cukup dengan Xylithol.

Jogja. Kota kecil yang sekarang sumpah-sumpah penuh sesaknya. Kota yang kabarnya terkenal dengan biaya hidupnya yang rendah (walaupun itu tidak berlaku juga bagi saya, mengingat defisit sering menghampiri saya di akhir bulan). Warung kopi dengan akses internet yang oke dan harga terjangkau. Kota dengan akses rata-rata 15 menit ke segala penjuru kota (ingat, penjuru kota, bukan kabupaten). Kesenian yang merakyat dan mudah ditemui di banyak tempat. Mulai dari pasar malam sampai pameran lukisan bernilai puluhan juta. Kebebasan berekspresi yang seolah-olah enggan untuk terbatasi oleh norma. Dari pasangan lawan jenis hingga yang sejenis. Ini Jogja (yang sepertinya milik) saya.

Jogja. Dimana persahabatan terjalin di antara teman-teman yang saya tidak perhitungkan sebelumnya. Teman-teman yang (mereka bilang) saya acuhkan. Teman-teman yang ada ketika saya membutuhkannya. Teman-teman yang dengan sukarela menerima saya menonton televisi dengan tidak tahu dirinya di kamar mereka. Belum lagi ketika saya menjarah ransum yang ada di lemari mereka. Teman-teman yang dengan terbuka menerima teriakan-teriakan absen saya yang ga penting. Teman-teman yang jadi jujugan ketika dompet kosong mlompong. “Pinjem si duitnya dulu buat bli makan.” Teman-teman yang sangat membantu saya melupakan sejenak kegelisahan saya terkait dengan pekerjaan, jodoh dan usia (karena mereka masih belum ke situ pikirannya..hehehehehehe..). Teman-teman kecil saya yang saya rindukan.

Jogja. Ketika Universitas Gadjah Mada menjadi momok bagi saya (setelah kegagalan saya menembus UI, saya jadi traumatis dengan universitas negeri). Ketidaksesuaian nilai yang saya anut dengan nilai yang berlaku di kampus. Keraguan saya akan kemampuan saya berjuang menyelesaikan studi. Pengkhianatan dan kemunafikan yang menjadi menu standar dalam lingkup pergaulan yang orang bilang dunia kaum cendekia. Hingga penemuan teman yang sebenarnya. Teman-teman yang tidak harus bersama setiap hari namun ada di hati setiap waktu. Teman-teman yang menemani saya ketika akhirnya air mata itu datang kembali. Pelukan yang mampu memberikan semangat. Omelan yang termaknai sebagai perwujudan rasa sayang.

Jogja. Dimana saya belajar bahwa cinta tidak selamanya bisa memiliki. Dimana rasa sayang mampu bersifat satu arah. Dimana ada permusuhan yang seolah enggan saya akhiri. Dimana kebencian dan rindu bersahabat. Dimana saya perlu belajar banyak untuk menstabilkan emosi saya.

Dan inilah Jogja. Kota yang akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Kota yang sangat bermakna bagi saya.










http://devry.wordpress.com


3.11.2010

..And The Tears are Gone..

Saya, seorang perempuan dengan tampang sangar, bodi preman tapi berhati melankolis. Sangat mudah menangis di berbagai kondisi. Senang, saya menangis. Sedih, saya menangis. Marah, saya menangis. Bahkan takut pun, saya menangis. Intinya saya itu cengeng. Bagi orang yang baru pertama kali melihat saya menangis, pasti akan takjub. Air mata yang mengalir di wajah saya tampak sangat seksi. “Woooooo, mbaknya seksi pas nangis.” Ya iyalah, dengan adanya air mata di wajah saya, kesangaran dan kepremanan saya menjadi lebih manusiawi. Saya tampak seperti manusia biasa yang punya kelemahan (ciiieeeee..s.o.n.g.o.n.g dikit bole lah). Namun, air mata saya yang sering mengalir justru menjadi malapetaka ketika berhadapan dengan mantan pacar saya (waktu itu masih lah menjadi pacar saya). “Uda si, nangis mulu. Gampang bener si nangis.” Atau kalau tidak, ketika saya mulai mewek, ditinggal lah saya. Dibiarkannya saya menangis sendiri. Bosan mungkin para mantan-mantan pacar saya itu melihat air mata yang tidak pernah ada habisnya.

Saya tidak pernah malu mengakui saya itu mudah sekali meneteskan air mata. Dari air mata dengan kecepatan 10 mm/menit hingga 120 km/jam, saya bisa lakukan itu semua. Menangis sesunggukan, menangis tanpa suara hingga menangis dengan meraung-raung, saya ahlinya. Bagi saya, menangis dan air mata merupakan alat untuk mengeluarkan penat emosi yang paling aman dan berikut ini adalah alasannya:

1. Murah (saya tidak akan menulis tanpa biaya, karena setidaknya saya harus mengeluarkan uang untuk membeli tissue, ada orang yang kalau lagi bad mood, pengekspresiannya dengan belanja, susah kan, bayangkan berapa uang yang keluar setiap kali orang tersebut kalap).

2. Tidak terlalu merepotkan orang lain (biasanya kalau saya menangis kencang, saya hanya perlu dipeluk, kemungkinan yang terjadi: tangisan saya akan bertambah kencang atau justru mereda).

3. Mudah (karena saya bisa melakukannya di berbagai kondisi, tempat dan posisi, regulasi emosi saya berlangsung dengan baik, tidak perlu mengosongkan jadwal hanya untuk menangis).

4. Tidak menyakiti orang lain (bayangkan kalau saya memilih mengekspresikan kemarahan saya dengan memukuli atau memaki orang yang membuat saya marah, berapa banyak orang yang sudah saya sakiti).

5. Aman (saya cukup menangis, maka perasaan saya bisa plong, tangisan saya tidak disertai dengan perilaku aneh-aneh lainnya, seperti self injury atau percobaan bunuh diri dengan racun, obat tidur atau terjun dari mall).

Luar biasa bukan efek dari tetesan air mata yang mengalir di wajah saya? Air mata merupakan salah satu ciptaan empunya alam semesta yang luar biasa hebatnya dan sangat mengagumkan. Saya tergila-gila dengan satu hal ini. Saya memujanya. Thanks God. Namun, saya tidak bisa menangis sejak 3 bulan lalu.

Seperti yang saya kemukakan sebelumnya, saya bisa menangis di berbagai kondisi. Tidak perlu menunggu momen sedih saja. Momen menyenangkan juga bisa membuat saya menangis. Namun tidak dengan kondisi saya saat ini. Ketika saya wisuda program magister saya, yang saya lalui dengan penuh pengorbanan (3x saya ikut ujian masuk UI, mental. Hingga akhirnya UGM menerima saya, kuliah yang melelahkan, menguras tenaga dan dompet, tesis yang berbelit-belit dan cobaan dimana pembimbing saya meninggal, semua mewarnai perkuliahan saya, hingga akhirnya saya bisa meraih predikat yang luar biasa bagi saya “CUM LAUDE”), saya justru tidak bisa menangis ketika seremonial wisuda tersebut berlangsung. Bahkan ketika prosesi angkat sumpah sebagai seorang psikolog, yang kata orang penuh dengan suasana haru biru, saya tetap tidak bisa menangis. Kemana air mata saya..?

Pergulatan hidup paska wisuda, sebagai job seeker, pencarian eksistensi diri di usia memasuki 30 tahun dan masih belum bisa berdiri di atas kaki sendiri, krisis percaya diri karena belum bekerja, keinginan memiliki pasangan, kerinduan melakukan aktivitas bersama pasangan, konflik dengan orangtua karena masih merepotkan mereka, jalan menuju cita-cita yang masih panjang, proses mencari kerja yang melelahkan dengan hasil tidak sesuai harapan hingga pertanyaan retorik terhadap kapabilitas diri, hanya mampu membuat dada saya sesak dan mata saya berkaca-kaca. Tidak cukup mampu membuat air mata mengalir di wajah saya. Kemana air mata saya..?

Momen senang, sedih, kemarahan yang awalnya dengan mudah membuat saya menangis, kini tidak lagi mampu menggerakkan otak saya untuk memerintahkan agar air mata saya turun. Hanya meninggalkan rasa sesak di dada saya. Gosh, I hate this situation. Air mata yang membantu saya untuk meregulasi emosi agar saya tetap berfungsi sepenuhnya, air mata yang bertugas menguras emosi negatif dalam tangki emosi diri saya, air mata yang mendampingi saya di berbagai peristiwa, saat ini sedang pergi entah kemana. Ada yang hilang dalam diri saya. Ketika tulisan ini saya buat, dorongan menangis sangat besar, namun seperti biasa, dorongan tersebut terhenti. Sekali lagi, meninggalkan kesesakan.

Saya merindukan diri saya menangis dan ketika air mata memenuhi wajah saya..

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
catatan kecil: seperti biasa http://www.fotosearch.com/ membantu saya mendapatkan gambar untuk ditampilkan

2.01.2010

Kegelisahan Hati

Tidak mudah menerapkan manajemen ikhlas dan pasrah ternyata. Apalagi apabila kedua hal itu membutuhkan sebuah kerendahan hati. Dan itu yang sedang saya rasakan saat ini. Semalam, saya memutuskan untuk melakukan suatu hal dengan (yang saya pikir) ikhlas, tapi ternyata hari ini, ada perasaan gelisah dalam diri saya setelah apa yang saya lakukan. Pertentangan harga diri dan gengsi a.k.a ego muncul dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi saya. Merebaklah pikiran if i can turn back time dalam kepala saya. Tapi itu jelas tidak mungkin terjadi. Saat ini, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya sangat gelisah. Dan itu pekerjaan rumah saya yang harus saya selesaikan. Try to deal with that. Semoga saya bisa.

1.14.2010

PARANOID

Saya sedang dihantui penyakit satu itu..ketakutan berlebihan dan irasional.. Menjadi seorang psikolog bukan jaminan saya akan terhindar dari penyakit macam-macam.. Justru, kepsikologian saya mengiring saya untuk merasakan beraneka ragam psychological disorder..

Salah satu teman dekat saya berkomentar bahwa saat ini saya sedang mengalami distorsi kognitif. Otak saya sedang terkena arus pendek, korslet dan jadinya mendistraksi cara berpikir saya. Diantaranya:

  1. Bakat posesif saya muncul bagaikan air bah. Sejauh ini saya cukup mampu mengendalikan potensi posesif saya, tapi untuk kali ini, saya angkat tangan. Dampaknya, ya jelas lah tidak mengenakkan bagi saya. Dari kemarin-kemarin yang muncul di benak saya itu cuma pikiran ini: " Kamu dimana, sama siapa, semalam berbuat apa..?" Gila saya.
  2. Perasaan ditolak. Setiap sms atau telepon saya tidak mendapatkan respon a.k.a nabrak tembok..ddduuuaaaaaarrrrr, runtuh sudah kepercayaan diri saya yang kata orang ampun-ampun besarnya. Langsung saya merasa tidak diinginkan, dipermainkan dan di di di lainnya yang jelas-jelas hanya memberikan kontribusi sangat negatif bagi saya.
  3. Jantung berdebar. Yang ini akibat dari kecemasan berlebihan, akhirnya memicu jantung bekerja lembur tanpa alasan jelas. Susah tidur sudah kalau begini.
Ketika saya menuliskan ini, saya sedang dalam kondisi netral a.k.a tenang. Saya bisa berpikir dan akhirnya mengakui bahwa saya sedang bermasalah dengan cara berpikir saya. Kalau sedang tenang begini, saya bisa jor-joran memasukkan pernyataan-pernyataan positif dalam otak saya. Semoga bisa bertahan sampai lusa karena toko tempat menjual pernyataan-pernyataan positif agak jauh.

Ayolah, otakku sayang, bantu saya..tetap lah tenang begini, cintaku.. Terus lah tentram begini, maka kita bersama akan mewujudkan mimpi kita.. Semakin sering engkau tenang, otakku, semakin dekat perwujudan mimpi kita.. Ayolah, otakku.. SEMANGAAAAAAAAAAAAT..!!!

11.09.2009

My Dream


Susah payah upload foto ini..Wrangler Ev yang membuat saya jatuh cinta mampuuss.. Ada satu lagi sebenarnya, yang tambah menguatkan saya untuk benar-benar jatuh cinta..tapi nanti, tunggu kalau koneksi sudah mendingan..

Saya benar-benar jatuh cinta, semakin dalam ketika saya melihatnya. Ini mimpi saya, yang akan saya wujudkan..someday..

Someday..u'll be mine, my lovely Ev.. Just wait for me.. I'll pick u up and we'll enjoy the world together..

DAAMNNN, I am so in love with youuuuuuuuuuuuu..

11.06.2009

Self Clean Up (part 2)

Mari dilanjutkan proses bersih-bersihnya..

Saya sudah selesai menyapa tubuh saya tapi saya belum berbicara dengan diri saya. Begitu banyak hal yang hendak saya bicarakan terkait dengan sampah-sampah yang sudah waktunya dibuang, karena mulai bikin penuh saja.

"Hei, big girl.. Apa kabar..? Kayanya, kita harus tata ulang lemari arsip kita. Filenya uda ga karu-karuan. Berantakan. Ada yang harus kita masukkin keranjang sampah dan dibakar habis. Bener-bener ga perlu. Hanya bikin kita pusing ajah. Agree..?"

Dan saya mulai menyeleksi arsip yang sudah kadaluarsa dan hanya membuat saya sesak juga cenderung menghambat hidup saya. Inilah arsip-arsip itu:
  1. Kisah cinta saya. Sudah old school habis. Semua sudah usai. Usai ya usai. Mau kisah cinta itu berakhir bahagia ataupun sedih, yang namanya selesai, ya terimalah kalau itu selesai. Diratapi melulu juga tidak akan membawa perubahan. Menanyakan alasan kenapa harus berakhir, juga tidak membuat mereka kembali. Mereka punya kehidupan baru tanpa saya di dalamnya, demikian dengan saya. Lepas atau buang?
  2. Dendam dan rasa marah terhadap semua yang pernah menyakiti saya. Beberapa kisah menyisakan kemarahan dan rasa dendam mendalam. Terkait dengan terinjaknya harga diri. Sangat besar keinginan untuk mengekspresikan kemarahan juga membalaskan dendam kepada yang bersangkutan. Tapi saat ini, saya sedang melakukan proses bersih-bersih, bersihkan saja, selesai perkara. Untuk kasus ini, pilihannya hanya dibersihkan atau tetap disimpan.
  3. Pola hubungan dengan lawan jenis. Setelah dibaca ulang, pola saya adalah menjadi pihak ketiga. Baik dalam hubungan dengan atau tanpa status. Tidak baik tampaknya. Buang kali ya. Putuskan rantai polanya atau dibiarkan semakin panjang?
  4. Keluarga. Pengalaman tidak menyenangkan dalam keluarga. Perilaku menjengkelkan dari anggota keluarga. Pemaksaan kehendak. Ketidakadilan. Berkurangnya respek. Walaupun untuk kasus berat sudah sempat saya bersihkan satu tahun lalu, sepertinya masih ada beberapa kasus-kasus kecil namun jumlahnya cukup lumayan bikin sesek. Hilangkan atau biarkan?
  5. Rasa takut, kekhawatiran dan rasa tidak percaya diri. Beberapa kegagalan menyisakan trauma yang memunculkan ketakutan, kekhawatiran dan ketidakpercayaan diri, terutama terkait dengan perwujudan cita-cita dan kehidupan pernikahan. Kegagalan juga menciptakan dominasi pemikiran negatif dalam diri saya. Jadi, masukkan ke tempat sampah atau dibelikan tempat arsip baru?
"Gimana, big girl? Ada lima arsip yang harus dibersihin. Makan memori banyak banget soalnya. Makanya kita suka banget ga jelas gitu idupnya. Kadang baek-baek aja, tapi sering jeleknya. Sering ga masuk akal, buntut-buntutnya cuma nambah sakit ati kita. Ga pernah bener-bener jelas idup kita. Mo dibuang ato diganti tempat aja..? Kalo dibuang, harus ikhlas, ga bole dicariin lagi."

...hening...(karena berpikir) 


Dan ini keputusan saya: BUANG SEMUA KE DALAM TEMPAT SAMPAH. Bukan hanya sekedar buang, saya ambil korek api. Saya BAKAR SEMUA arsip yang ada dalam tempat sampah. Saya tunggu hingga semuanya berubah menjadi abu. Saya lempar abunya ke udara. Dan hilang bersama angin. 


Berbicara dengan diri, sudah. Arsip sudah dibereskan. Sampah sudah dibersihkan. Sekarang waktunya bicara dengan yang punya saya. Pemilik alam semesta. Energi terbesar di dunia ini. Beginilah saya berbicara dengan pemilik diri saya:

"Dear, Lord. How are You? Ini aku, Toetiek. Thank you so much for everything. Buat kehidupan 28 tahunku. Untuk nafas yang aku hembuskan. Untuk keluarga yang luar biasa, papa yang hebat, mama yang sabar, kakak yang perduli dan adek yang menyenangkan. Terimakasih sungguh, untuk cinta yang aku rasakan, sakit yang aku alami. Kebahagiaan, kepedihan. Keberhasilan, kegagalan. Airmata, tawa. Kehidupan, kegagalan. Kesetiaan juga pengkhianatan. Aku benar-benar berterimakasih, terutama untuk cintaMu terhadapku. Thank you, Lord. Thank you, thank you and thank you. You're the greatest one. I love You. Dan aku juga meminta maaf untuk semua kesalahan yang berulang aku lakukan. Terus, terus, dan terus. Atas pengabaianku terhadapMu. Ampuni aku. Ampuni aku. Terimakasih, terimakasih."


Dan acara bersih-bersih pun usai. Terasa lebih ringan dari sebelumnya. Entahlah, saya merasakan energi positif mengisi ruang kosong bekas tempat beberapa arsip yang so old time. Proses ini tidak hanya dilakukan sekali karena kehidupan saya akan terus berjalan. Selalu akan ada arsip-arsip baru yang masuk dalam diri saya. Ketika arsip tersebut sudah tidak berguna, maka saya sesegera mungkin harus melakukan bersih-bersih diri kembali.


Tidak mudah membuang arsip-arsip brengsek itu tanpa jejak, karena begitu banyak cerita menarik bila arsip tersebut dibaca kembali. Mengingatkan pada jejak masa lalu. Namun ketika jejak tersebut hanya menghambat jejak saya untuk maju, untuk apa? Toh semuanya sudah usai, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain merelakannya lepas dari diri saya. Kedinamisan hidup saya menuntut saya untuk terus bergerak dan tidak memungkinkan untuk terjebak di satu titik. Begitu banyak titik yang harus saya tuju untuk sebuah pembelajaran kehidupan. Ketika kenangan membuat saya berat melangkah dari satu titik ke titik lainnya, untuk apa saya terus bawa?

11.05.2009

Self Clean Up (part 1)



Sudah lama ternyata saya tidak melakukan bersih-bersih diri. Makanya badan saya kok rasanya berat sangat. Kepala apalagi. Cukup sering didatangi serangan sakit kepala sebelah. Belum lagi masalah mood. Swing. Naik, turun, naik, turun. Sekarang hot, besok cold. Lusa, hot, setelah lusa, cold lagi. Korslet badan saya lama-lama saking tidak stabilnya mood. Ditambah, pikiran negatif yang ya ampun, gampangnya datang tapi susah sekali perginya. Terkadang malah menetap, bahkan sampai punya anak segala. 


Inspirasi bersih-bersih diri datang dari mengikuti 3 hari kuliah mantap tentang transpersonal. Ingin saya sebenarnya, dosennya yang bersihin saya. Tapi asistennya bilang beliau padat gila jadwalnya. Jadi, saya bersih-bersih ajah sendiri, pakai cara yang saya dapat dari pak dosen yang sibuk itu.Dan inilah proses self clean up saya...

  1. Dimulai dari kuliah hari terakhir, yang katanya sesi bersih-bersih dipandu bapak dosen. Metodenya saya paham, tapi saya tidak bisa fokus. Kepala saya sakit mendengar healing music yang dipakai. Saya bilang sama diri saya sendiri, "Saya harus lakukan ini sendiri. Dengan cara yang sesuai untuk saya."
  2. Saya berpikir dong ya..cara apa yang sesuai untuk saya. Pakai healing music, sakit kepala. Memejamkan mata, malah tidur. Wah, repot. Pikir, pikir, pikir terus pikir. Ting, dapatlah saya. Pantai!! Harus bersih-bersih di pantai sepertinya. I really love beach. Much!
  3. Oke, tujuan sudah ketemu. Kapan ya waktu yang pas gitu buat bersih-bersih di pantai? Hmmmm..sore menjelang matahari terbenam? Panas laaaah.. Baiklah, diputuskan pagi-pagi buta. Lanjut menikmati matahari terbit.
  4. Tidak mungkin kali sendirian. Hilang nanti saya ditelan samudera. Saya mengirim sms ke calon-calon potensial yang juga menyukai pantai. Sekian banyak sms dengan menggunakan fasilitas paket sms dari XL tercinta, sms jadi murah. Cuma bayar Rp 10/sms (saya konsumen yang baik ya, mempromosikan provider dengan sukarela).
  5. Semua sudah oke. Teman, oke. Waktu keberangkatan, oke. Mari kita berangkat. Dengan semangat 45, saya beserta rombongan menuju tujuan. Dan proses bersih-bersih pun dimulai.
  6. Awalnya, saya memejamkan mata. Berusaha fokus dengan permasalahan yang hendak saya bersihkan, saya lepaskan. Seperti yang saya tulisan sebelumnya, saya tidak cocok dengan metode pejam mata. Akhirnya, saya memandang laut lepas. Ombak. Mendengar debur ombak dan kemudian berbicara dengan diri saya sendiri. Beginilah isi pembicaraan saya:
" Hai, tubuh.. Apa kabar? Lama ternyata ya kita ga saling ngobrol. I miss u. Thanks for everything. Buat menemaniku di setiap waktu. Buat mendukungku di setiap kondisi. Buat tidak merepotkanku selama 28 tahun ini. Anyway, aku mau kasih daftar terimakasihku. Tolong disebar ya..
  • Kepala dan otak,  thanks untuk ide-ide cemerlangnya..ide-ide gila dan unik.
  • Mata, untuk pemandangan indahnya..termasuk juga lelaki-lelaki gantengnya..dan untuk pemandangan mengenai penderitaan yang membuatku belajar banyak tentang hidup.
  • Hidung, untuk aroma wangi dan bau busuk di suatu kondisi. Membuatku tahu mana aroma yang aku suka. Dan untuk udara yang aku hirup serta nafas yang aku hembuskan.
  • Bibir dan mulutku, untuk kecupan-kecupan indah yang kurasakan dan pembicaraan-pembicaraan menyenangkan yang telah aku lalui.
  • Tanganku, untuk membantuku menyelesaikan banyak hal. Menulis, mengetik, membantuku makan dan juga untukku melakukan hobiku, membersihkan hidung.
  • Jantungku, untuk membuatku bisa merasakan getaran senang, sedih, cemas, takut dan juga gembira. Membuatku tetap hidup dengan detaknya.
  • Pembuluh darah dan otot-ototku..untuk segalanya yang terus membuatku tetap bertahan.
  • Perut dan organ dalamku, untuk menampung semua yang aku makan dan mengolahnya menjadi sesuatu berarti untuk kehidupanku.
  • Kakiku, untuk menemaniku berjalan, berpetualang, merasakan betapa seksinya high heels itu, menekan gas, kopling, rem dan juga untuk kram sesekali yang menyadarkanku agar aku mengistirahatkanmu.
Terimakasih untuk semuanya. Tak mungkin aku akan bertahan tanpa kalian semua. Dan, maafkan, aku terlalu sering mengabaikan kalian, juga karena aku tidak mengajak kalian berbincang. Maafkan..."







 ...to be continued...

;;