7.03.2010

Beautiful Lunch

Anda pasti tahu rasanya ketika Anda menunggu seseorang, sekian lama, sambil kelaparan, dan di menit terakhir orang yang Anda tunggu membatalkan janji dengan Anda? Rasanya Anda bisa lakukan apa saja untuk membunuh orang tersebut saat itu juga. Begitu juga dengan saya. Hufthuft.. Di tengah rasa lapar yang menggila bercampur dengan emosi jiwa, saya menjelma menjadi manusia tanpa hati karena seorang membatalkan janji makan siang di menit terakhir. Makan siang bayangkan makan siang! Aktivitas pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan pokok semua manusia!!!!! Saya sudah menanti, membayangkan menu makan siang saya yang merasuk sukma. Yang tidak setiap hari bisa saya nikmati. Menu makan siang yang rela saya tukarkan dengan nyawa saya saat ini. Dan tiba-tiba batal. Hadaaaaaaaaaaaaaaaaah.. Saya pun rela mengosongkan perut saya dari pagi demi makan siang ini. Berharap saya akan dapat menampung menu yang sangat banyak siang ini. Dan ternyata tidak terwujud. Sangat wajar saya bisa membunuh. Terutama membunuh orang yang membatalkan janji makan siang ini.




Saya pun mengirimkan sms ke teman dekat saya: “Ga jadi lunch, ada jadwal ngajar tiba-tiba. Baru aja ngabari.”
Teman saya membalas: “Woooh, kemampleng tenan memang. Sabar, sabar, tan.”
Saya: “Harus memahami lagi berarti?”
Teman Saya: “Sabar, sabar.”

Orang yang membatalkan janji makan siang ini bilang semua hal selalu membuat saya kesal. Termasuk dia juga itu, membuat saya kesal. Saya sudah mau mati kelaparan menunggunya. Wajarlah ya kalau saya kesal. Dan tahu apa respon orang ini ketika saya komplain tentang pembatalan janjinya yang seenaknya sendiri:
“Kalau mau nunggu ya agak siangan, cantik. Paling jam 2 – 3 an aku kelar.”
Manis bukan responnya? Panggil cantik segala. Memang dengan memanggil saya cantik, rasa lapar saya berganti dengan rasa kenyang? Yang lebih indah lagi adalah alternatif waktu pengganti yang dia tawarkan. Jam 2 – 3 an!!!!!! Siangnyaaaaaaaaaaaaa.. Hadah, hadah, hadah..duh, Gusti..

Saya sudah mau mati saja gara-gara kelaparan. Anak kos pula. Ga ada stok makanan. Mau keluar cari makan, panasnya aje gile. Sepertinya mending saya tidur saja lagi. Bangun sorean, baru cari makan. Dan dalam tidur saya, akan saya mimpikan orang yang membatalkan janji makan siang saya. Dalam mimpi, saya akan lakukan mutilasi padanya. Kalau perlu habis saya mutilasi, saya blender. Biar lembut sekalian tidak bersisa. Saya campur dengan telur lantas saya goreng. Saya jadikan menu makan siang saya.


picture was taken from www.gettyimages.com

6.27.2010

My Confession


Beberapa hari lalu, kantor saya mengadakan sebuah pelatihan. Pengisi materinya adalah seorang yang katanya pinter (banget) dengan gelar super panjang plus aneh di belakang namanya yang menurut saya susah buat dilafalkan. Sesusah yang punya gelar sepertinya. Berjenis kelamin lelaki, yang sebenarnya cukup good looking andai saja dia tidak bertingkah super duper menyebalkan. Saking nyebelinnya, dia sukses membuat saya menangis. Huhuhuhuhuhu, agak susah mengakui saya menangis gara-gara dia. Tapi ya memang begitu adanya.

Mr. Smart Guy ini entah kenapa doyan banget ngegangguin saya dengan mempermalukan saya di depan forum. Ini deretan ceritanya:

First meeting. Latar belakang pendidikan saya kurang memadai dengan posisi pekerjaan saya saat ini. Jadi saya bilang ke Mr. Smart Guy untuk jangan berbicara terlalu cepat, supaya saya bisa memahami materi dengan baik. Karena saya tau persis, materi yang dibawakan Mr. Smart Guy ini susah. Sebelum pertemuan ini, saya mencoba membaca bukunya, tapi ya ga paham-paham. Jadi menurut saya, ini materi sulit. Eh, ternyata, permintaan saya sebagai efek kekurangan saya diekspose di forum tersebut. Untung cuma ada 8 orang, saya bisa lah mesam mesem. Ketawa ketiwi. Tidak masalah. Baiklah, biarkan saja Mr. Smart Guy ini bertingkah.

Second meeting. Saya ga request apa-apa (seinget saya). Tapi, lagi-lagi, Mr. Smart Guy ini iseng gitu aja ngebawa-bawa saya dengan sindiran-sindirannya di depan forum. Sekali lagi, untung, cuma ada 8 orang. Ga gitu berasa lah. Termasuk juga sindiran-sindirannya paska meeting. Ya sudah, biarkan. Mungkin Mr. Smart Guy terlalu pintar, sampai-sampai tanki otaknyanya luber-luber. Semua-semua dikritikkin.

Third meeting. Ini dia yang jadi bencana!!! Ya pelatihan yang membuat saya menangis. Sebagai new comer, jadilah saya EO, sendirian, semua serba saya sendiri yang lakukan. Tanggungjawab segitu banyaknya dengan wewenang yang belum jelas. Gimana lah caranya supaya pelatihan dengan 30an peserta yang rata-rata punya jabatan oke ini berlangsung sukses. Ada beberapa orang yang saya amati, mencari celah kelemahan dan kekurangan saya. Jelas dong, saya berusaha seoptimal mungkin buat meminimalkan itu, biar orang-orang itu ga akan mendapatkan mau mereka dengan mudah. Eh, eh, eh, eh, lhah, kok Mr. Smart Guy ini yang bikin gara-gara. Ini ni kalimat yang muncul dari Mr. Smart Guy yang menciptakan bencana buat saya:“Harusnya ini ada print outnya (materi yang sedang dia bawakan) sebagai panduan kita.” Jelas lah, kalimat Mr. Smart Guy barusan itu memancing dua pejabat tinggi kantor saya untuk menegur saya serta merta saat itu juga. Pertama, teguran dari GM saya, disusul teguran dari CEO saya. Saat itu juga, di depan forum dengan 30an peserta. Ini teguran mereka:“Harusnya ini sudah ada dari kemarin, bukan sekarang baru mau diprint.” Apesnya lagi, dua orang bos saya itu suaranya pada kenceng semua. Hadaaaaaah, rasanya saya mau mati. Panas semua wajah saya. Panas menahan marah. Gimana ya ga marah, PERTAMA, itu bahan yang HARUSNYA DICETAK UNTUK PANDUAN PESERTA, tidak sekalipun diberikan kepada saya filenya apalagi informasi bahwa itu harus dicetak untuk para peserta. Info itu baru saya dengar ya pas pelatihan. Kenapa juga ga dari kemarin-kemarin gitu kan. KEDUA, ternyata bahan yang Mr. Smart Guy bilang harus ada cetakannya, ga perlu-perlu amat buat dibagi ke seluruh peserta. Cukup para orang-orang tertentu di jajaran top management. Hadaaaaaaaaaaaaaaaah, pengen nimpuk sepatu saja saya ini. Sudah, sudah, slow, sekarang minta filenya, segera dicetak. Asistennya ternyata ga punya dong filenya. Ya sudah, saya mau minta langsung sama Mr. Smart Guy. Eh, asistennya bilang kalau Mr. Smart Guy itu tidak suka diinterupsi kalau sedang presentasi. Hadaaaaaaaaah, rewelnya Mr. Smart Guy ini. Terpaksalah saya menunggu beliaunya ini selesai presentasi sambil menahan emosi. Begitu selesai, saya mintalah filenya, dengan marah-marah lah. Ketika saya buka, format filenya tidak kompatibel dengan format komputer yang ada di kantor saya. Harus diedit dulu. Hadaaaaaaaaaah, kemrungsung lah saya. Secara, saya diburu-buru untuk menyediakan file tersebut secepatnya. Lhah, pas saya lagi melihat layar komputer saat mengedit file tersebut, kok air mata saya meluncur. Pertama-tama masih pelan. Lhoh, lhoh, lhoh kok lama-lama tambah deres tambah deres tambah kenceng. Panik lah saya. Gimana ini, gimana ini. Ya sudah lah, mau gimana lagi. Hapus saja air matanya. Kembali ke ruangan dan bersikap seolah-olah saya tidak menangis. Tapi tetap aja, ketauan, lha mata saya sembab. Bodo lah. Sepanjang sisa pelatihan, saya sewot aja bawaannya. Semua semua kena semprot.  Kalau misalnya pembunuhan itu legal, saya orang pertama yang akan melakukannya dengan target utama Mr. Smart Guy. Seusai pelatihan yang menguras tenaga, saya perlu menenangkan diri sejenak untuk meregulasi emosi saya. Setelah cukup tenang, saya sms Mr. Smart Guy untuk menanyakan bisa ga ya kira-kira tingkahnya yang menyebalkan itu tidak terulang lagi. Beliau menjawab dengan permintaan maaf dan katanya ga akan gitu lagi. Eh,tapi buntut-buntutnya Mr. Smart Guy membahas tentang saya menangis. Kok ya dia tau ya.. Saya ngeles lah, sesusah apapun saya ngeles, saya tetap harus ngeles. Biar keliatan banget maksa, tetap aja saya kekeuh bilang saya ga nangis. Malu lah, bo..

Agak berlebihan kayanya reaksi saya, tapi entahlah, saya paling ga suka ketika saya ditegur di depan umum untuk sesuatu kesalahan yang bukan saya lakukan. Ditambah, saya tidak bisa membela diri saat itu juga. Ditambah lagi, itu dilakukan di depan beberapa orang yang saya tahu benar menginginkan saya celaka. Mungkin itu lah dunia kerja yang sebenarnya, saya perlu beradaptasi dengannya. Seperti yang Mr. Smart Guy bilang, saya masih anak kemarin sore. Anak kemarin sore yang harus belajar banyak bahwa teman dan lawan sangat tipis bedanya. Anak kemarin sore yang harus belajar bahwa air mata tidak akan merubah apapun. Tapi, saya juga anak kemarin sore yang akan lakukan apapun untuk mempertahankan apa yang menjadi hak saya. Saya, anak kemarin sore yang tidak akan diam saja ketika seseorang dengan seenaknya menginjak harga diri saya. Saya, anak kemarin sore yang akan tetap mempertahankan keseimbangan hidup.

Working life lesson learned huh..? Whatta life..  I have to learn about working life more more more more and more.. Saya tidak akan membiarkan air mata saya kemarin sia-sia.. Selalu ada yang harus didapatkan dari semua lara yang tercipta..








6.11.2010

I am Woman

Curi-curi waktu dikit aja buat nulis lagi. Tiba-tiba hasrat menulis begitu besar plus ada ide pula. Daripada ilang. Sabtu, pekan lalu, saya dan seorang sahabat watched the movie. Sebuah film dari serial yang jadi favorit saya, the one and only, SEX and THE CITY. Ceritanya standar lah, saya akui itu. Tapi ada satu hal yang sangat menginspirasi saya (asli, saya merinding ketika menulis ini) dari film itu, salah satu soundtracknya yang berjudul: I am Woman. Versi aslinya dinyanyikan oleh Helen Reddy di sekitar tahun 70an (saya baru tau Helen Reddy setelah saya googgling. And she’s so adorable. Beautiful, charming, energic, dynamic and so awesome). Saya download lagunya, saya putar again again again dan again. Saya ikut menyanyikan liriknya keras-keras (thanx God, I have my own officeroom. Ga perlu takut mengganggu orang lain). Tulisan ini dibuat dengan iringan Helen Reddy, dan saya masih saja merinding!!!!! Dan ini liriknya:

I am woman, hear me roar

In numbers too big to ignore
And I know too much to go back an' pretend
'cause I've heard it all before
And I've been down there on the floor
No one's ever gonna keep me down again
Oh yes I am wise
But it's wisdom born of pain
Yes, I've paid the price
But look how much I gained
If I have to, I can do anything
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am woman
You can bend but never break me
'cause it only serves to make me
More determined to achieve my final goal
And I come back even stronger
Not a novice any longer
'cause you've deepened the conviction in my soul
I am woman watch me grow
See me standing toe to toe
As I spread my lovin' arms across the land
But I'm still an embryo
With a long long way to go
Until I make my brother understand

Lagu ini luar biasa. So inspiring me. Coba lihat beberapa liriknya:
·        “Yes, I am wise, but it’s wisdom born of pain”. Seorang perempuan dengan kebijaksanaan yang lahir dari begitu banyak rasa sakit. Saya harus melalui begitu banyak luka dan kepedihan untuk menjadi seperti saat ini. Begitu juga dengan Anda. Pribadi Anda saat ini merupakan tempaan dari berbagai peristiwa dalam kehidupan Anda. Lihat, betapa bijaksananya Anda sekarang.
·        “Yes, I’ve paid the price, but look how much I gained”. Saya membayar lebih untuk dapatkan apa yang saya miliki sekarang, sebuah permulaan keberhasilan yang saya tidak dapatkan begitu saja.  Ada harga sangat mahal yang harus saya bayar. Sangat mahal, begitu mahalnya, saya hampir mati ketika pergi ke kasir untuk melunasinya (sedikit agak berlebihan memang). Jangan lihat dari harganya, tapi lihatlah dari apa yang Anda terima sebagai konsekuensinya.
·        “If I have to, I can do anything”. Saya pernah berkata pada seorang sahabat, bukan masalah saya tidak bisa, tapi ini masalah saya mau atau tidak mau. Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin. Orang ga punya tangan aja bisa menggambar. Orang ga punya kaki aja bisa berlari. Saya dan Anda? Hmmmm..let me think..Kita memiliki segalanya. Kita diciptakan dengan lengkap. Jauh lebih beruntung dari sesama kita yang terlahir dengan ketiadaan beberapa bagian tubuh. So, we can do anything.
·        “You can bend but never break me, 'cause it only serves to make me more determined to achieve my final goal. And I come back even stronger, not a novice any longer, 'cause you've deepened the conviction in my soul”. Baiklah, hati saya memang pernah tersayat-sayat oleh begitu banyak kejadian. Tapi hati saya tidak pernah benar-benar hancur. Jadi stop being a drama queen then. Semua kepedihan yang saya terima hanya memacu saya untuk berprestasi lebih dari sebelumnya. Tidak butuh waktu lama. Kita tidak perlu waktu lama untuk menjadi lebih kuat dari saat ini. Say goodbye dengan semua pertanyaan: Apakah aku bisa kembali pulih, apakah aku akan bisa berprestasi kembali dengan kegagalan ini. Apakah ini apakah itu.

Kalau saya bisa, Helen Reddy bisa, Anda pun bisa. All of pain in our live. All of failure in our way. Kita bisa lalui itu semua. Segala macam pandangan sebelah mata, segala kesangsian atas kemampuan kita, itu hanya membuat kita lebih berusaha dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kita bisa lalui itu semua karena: I AM WOMAN, I AM STRONG, I AM INVINCIBLE..Yes, I proudly say that I AM WOMAN..

6.10.2010

Melajang, Salah ya...?

Hari ini, kerjaan saya di kantor (saya suka banget ni sama statemen ini, soalnya saya ga nganggur lagi, ga gila lagi gara-gara nganggur) lagi santai (kaya di pantai). Ya jelas lah, secara saya habis kerja rodi dua minggu kemarin, pontang-panting ngejar target. Break lah bentar. Awal minggu, gila lagi. Ngejar target lagi. Hehehehehehe.. Ga penting juga si intermezzonya, jadi ga jelas saya mau cerita apa..hihihihihihihihi..

Jadi gini, karena hari ini saya santai, saya melakukan sesuatu yang disebut manipulasi waktu. Gayanya aja saya serius di depan komputer, tapi buat blogging.. Nanti kalau ada yang masuk, saya ganti lah page, ke web-web yang berisi materi kerjaan saya. Ketika saya blogging, ada satu tulisan menarik tentang “Pernikahan Merupakan Pencapaian Terbesar”. Bagi saya, tulisan itu keren. Fenomena wanita sukses, pendidikan tinggi dengan pekerjaan oke. Penampilan wah dengan body sedap dipandang. Tapi, masih melajang. Pasti lah, kalau lagi kumpul-kumpul temen, keluarga, pertanyaan yang muncul: Kapan merit? Dijawab ga tau, dibales lagi: Kenapa si ga mau merit. Hadaaaah..

Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu, sering-seringnya, muncul dari sesama perempuan yang sudah menikah. Waduh, ga setia kawan ni. Ngejatuhin temen sendiri. Mungkin, memang bawaannya perempuan kali ya, suka sekali berkompetisi. Kalau ada temennya yang belum merit, dia merasa menang. “Yeyeyeaaah, temen gue ga laku. Gue laku.” Atau sebenarnya, pengen bisa sekolah tinggi, kerja mapan, duit banyak dari hasil kerja sendiri tapi keburu merit, iri, jadi berusaha menjatuhkan temen sendiri.

Siapa si yang ga pengen merit, punya anak yang lucu-lucu, keluarga yang oke? Semua mau lah pasti. Tapi prioritas orang kan beda-beda nih. Kaya di blog itu, ada yang komen,” Kalau yang di depan mata itu tawaran buat studi overseas, masa ya ga saya ambil. Mo merit, yang dimerit’in juga belum ada.” Masa iya, kita harus ngikutin kata orang,”Meskipun belum ada calon, jangan si diambil tawaran itu. Nanti bikin kamu tambah susah dapet jodoh.” Preeeeeeeet..

Beruntunglah orang yang studi tinggi, pekerjaan oke, merit cepet. Kaya temen-temen saya sekolah paska sarjana dulu. S2, pacar siap melamar, begitu ijazah keluar, dilanjut ijab sah, selesai ijab sah, dapet kerja di perusahaan mentereng. Saya juga mau laaaaah kalau begitu itu. Masalahnya, jatah orang ada sendiri-sendiri katanya. Kalau itu belum jadi jatah kita, gimenong? Kita buang aja jatah kita, ngerebut jatah dia?

Jatah saya saat ini sepertinya masih pada fase melajang. Kecemasan itu ada lah, mengingat teman-teman saya taken one by one. Kalau kumat melo yelo belonya, saya suka nanya: “Kapan saya taken?” atau “Ada ga ya yang mo take saya?” Hahahahahahaha..silly, tapi itu realita.
Nanti, kalau saya sedang tenggelam dalam kerjaan, saya suka mbatin: “Untung saya masih lajang, ga kepikiran ninggalin anak kelamaan, ga bertengkar sama suami gara-gara pulang malem.”

Saya masih belajar banyak untuk dealing dengan kondisi saya sekarang. Ga pernah mudah. Siapa bilang jadi lajang itu mudah? Banyak godaannya, terutama dari para lelaki yang suka sekali cari iklan di kehidupan perkawinan mereka. Fasilitas yang ditawarkan, ampun-ampun. Dari fasilitas level rendah, seperti pulsa yang terisi dengan sendirinya hingga tawaran posisi asoy geboy di perusahaan asing besar. Merem melek mata saya kalau nemu godaan kaya gini. Tapi ya itu tadi, namanya juga godaan. Cuma menggoda. Ga serius. Belum lagi nanti disirikkin sama para perempuan yang khawatir suami-suaminya lari. Hadaaaaah... Pernah ya, saya jengkelnya setengah mati, lelakinya yang genit, saya yang kena apesnya. Lha saya ga ngapa-ngapain, kok saya dibilang ngegangguin suami orang. Ya oloooooh..

Saya pernah bilang sama sahabat saya kalau saya mulai bisa menikmati kesendirian saya. Gimana ga susah ya, saya ini masuk di lingkungan baru yang notabene semua sudah menikah. Saya ga punya temen nongkrong atau ngobrol yang sepikir. Kesepian saya. Kemana-mana, sendiri. Haduh, ampun-ampun. Secara, saya ini anti soliter mampus. Ekstrovert sejati yang sangat menyukai berinteraksi dengan orang. Berdarah-darah saya di awal-awal. Ada sih yang bersedia diajak nongkrong-nongkrong, ngobrol-ngobrol, enak diajak ngobrolnya, tapi sudah punya bini. Bisa dirajam nanti saya, dibilang melakukan usaha merebut suami orang. Tiap hari saya memaki: “Gue juga ga mau kali kaya begini, tapi kalo gue emang lagi begini, masa iya gue maksa kawin.” Bodoh memang terkadang saya itu. Silly. Hahahahahahahaha..

Tapi eniwei, bener lah yang di blog itu bilang, menikah melajang sama enaknya sama sulitnya. Sama lah semuanya itu. Sudah ada porsinya sendiri-sendiri. Kalau melajang tampak lebih menyenangkan dari menikah, ya itu pas circlenya saja. Kebetulan lagi di putaran yang enak. Menikah juga begitu. Jangan sih kaya orang susah, Toetiek. Go go power ranger aja lah..

Go go you, girl.. Yes, you can..

6.01.2010

The Princess



Sang Putri menangis. Air mata yang tertahan akhirnya meluncur deras semalam. Pagi ini pun, sang Putri masih menangis walaupun tidak sekencang tadi malam. Hati sang Putri terluka sekian kali. Tidak pernah terbersit dalam benak sang Putri untuk membiarkan hatinya kembali tersakiti oleh apa yang orang bilang itu cinta. Hati itu sudah cukup lama terlindungi, luka itu sudah kering sepertinya, maka sang Putri pun mencoba kembali mengenalkan hatinya pada sebuah rasa yang menciptakan kehidupan, hasrat dan keindahan. Terpuruk dalam sebuah paranoid, self blamming dan rasa tidak percaya diri cukup membuat sang Putri jengah. “Tidak baik untuk hatiku,” ujar sang Putri. Dan sang Putri dengan susah payah kembali berdiri dari keterpurukan itu.  

“Kamu menarik, kamu pintar, kamu menyenangkan, kamu loveable, kamu memiliki segalanya. Tidak pernah ada cukup alasan untuk membuatmu merasa tidak pantas untuk dicintai,” begitu sahabat-sahabat sang Putri memberikan semangat. Mengembalikan rasa percaya diri yang tercecer. Sang Putri pun tersenyum, “Waktunya kembali membuka hati untuk Pangeran.”

Kali ini, sang Pangeran berdiri di sana. Dengan segala kemapanan hidup. Kematangan pribadi. Pesona diri. Kejantanan lelaki. Sang Pangeran tersenyum, dan sang Putri tahu, hatinya telah tertambat. Tak lama sang Pangeran pergi. Entah mengapa, sang Putri merasa gelisah. Tidak lama, kegelisahan sang Putri terjawab. “Apakah aku memenuhi kualifikasinya? Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Apa aku cukup berharga untuknya?” sang Pangeran berkata pada seorang sahabat sang Putri. Seribu satu jawaban yang diberikan sahabat sang Putri pada sang Pangeran tidak cukup mampu membuat sang Pangeran sadar bahwa hati sang Putri telah tertambat padanya. Dan sang Pangeran pun pergi, meninggalkan sang Putri yang kembali terluka. Hanya saja kali ini, ada air mata di wajah sang Putri.

5.23.2010

Let Me


Saya kembali bertemu dengan sahabat lama yang hilang empat tahun lalu. Bertemunya pun lewat FB dan kemudian kami berkomunikasi melalui telepon. Sahabat saya menghilang karena hantaman luar biasa dalam kehidupan keluarganya. Suaminya berselingkuh tapi sahabat saya yang diperkarakan. Sahabat saya akhirnya bercerai dan mengalami masa-masa suram paska perceraiannya hingga harus menarik diri dari peredaran a.k.a menghilang. Kemudian kemarin saya bertemu dengannya untuk menghadiri acara lamarannya. Kami pun bercerita banyak, terutama tentangnya empat tahun terakhir.

Tidak dipungkiri, hati sahabat saya tidak lagi memproduksi rasa. Bahkan ketika memutuskan untuk berpacaran dengan lelaki (yang baru saja melamarnya kemarin), sahabat saya tidak memiliki rasa apapun terhadap lelaki tersebut.

Sahabat Saya yang Hilang (SSH): “ Dia yang ngajakin pacaran. Lagipula lumayan juga, ada temen ngobrol, crita, maen. Kebutuhan aja. Tapi hati, ga ada rasa waktu itu.”
Saya (S): “Trus butuh waktu berapa lama sampai muncul rasa?”
SSH: “Delapan bulan. Pas dia dateng ke rumah buat lebaran. Di situlah aku ngliat dia srius sama aku. Dia, yang belum pernah menikah, seumur denganku, mau sama aku, janda anak satu.”

Ternyata, selama delapan bulan di awal mereka berpacaran, sahabat saya tidak memiliki rasa, bukan karena sahabat saya tidak menyukai lelaki yang menjadi calon suaminya saat ini, tetapi sahabat saya MEMANG menutup rasa itu karena rasa tidak percaya diri terhadap statusnya janda anak satu. Pemikiran bahwa “Ga mungkin lah dia srius sama aku, paling juga cuma buat maen-maen aja,” atau “Lelaki, kalo macarin janda, ya paling begitu-begitu aja tujuannya. Toh, aku juga butuh, asas manfaat aja lah,” kerap datang di benak sahabat saya saat itu. Jadi, sampailah pada sebuah keputusan, sahabat saya tidak menggunakan hati selama awal masa pacarannya untuk meminimalkan sakit hati kalau-kalau hubungannya berakhir. Saya tergelitik dengan cerita sahabat saya. Bukan apa-apa, saya sedang berada di fase yang sama seperti sahabat saya dulu. Sedang menutup hati untuk meminimalkan sakit hati.

Saya memiliki kecenderungan dekat dengan lelaki-lelaki yang masuk dalam kategori Bad Guy. Ya jelas lah, hubungan-hubungan yang saya jalani dengan para lelaki tersebut pastinya porak-poranda tak bersisa. Hal yang dari dulu berusaha saya cari latarbelakangnya namun belum juga ketemu sampai saya berbincang dengan sahabat saya, MENGAPA SAYA SERINGNYA BERHUBUNGAN DENGAN PARA BAD GUY????  Ternyata oh ternyata, ada kaitannya dengan masa lalu saya. Masa lalu saya bukanlah masa lalu yang bisa diterima dengan mudah oleh para lelaki terutama lelaki dengan latar belakang lurus-lurus saja. Lha seringnya, lelaki-lelaki brengsek saja kadang kalau cari istri sok-sokan cuma mau sama perempuan baik-baik. Apalagi lelaki yang baik-baik saja hidupnya, ya wajar kalau mencari istri yang minimal sama baiknya lah dengan mereka. Taruhlah contoh, ya kaya kasus twitter seorang motivator tempo hari itu (saya lupa isi pasti twitternya): “Perempuan yang merokok, suka dunia malam, chit chat snob, bukan kriteria istri yang baik.” Kalau seorang motivator kondang yang harusnya netral saja bersikap seperti itu, apalagi para lelaki yang bukan motivator dan tidak kondang. Pastilah sebelas duabelas pikiran mereka dengan motivator tersebut tentang perempuan yang ideal sebagai calon istri. Terjadilah proses labeling yang subyektif. Daripada nanti berhubungan dengan lelaki baik-baik yang memunculkan kecenderungan untuk bermasalah dengan masa lalu saya, ya lelaki brengsek tampak lebih masuk akal. Pemikiran simpel, sederhana (tapi sangat merusak).


Teman saya pernah menanyakan mau sampai kapan saya akan mbulet dengan pola saya. Dan saya tidak pernah bisa menjawabnya. Bukan saya tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki tepat dan baik hati yang mau menerima saya apa adanya.  Saya mau. Teramat mau. Dulu pernah saya coba. Saya berhubungan dengan seorang yang lurus-lurus saja hidupnya. Baik sepertinya. Ketika saya sudah merasa dekat, mulai percaya padanya, mulai menggunakan hati, saya ceritakanlah padanya masa lalu saya. Dan, lelaki itu pun pergi begitu saja. Sakit hati lagi saya. Ya akhirnya ya begini-begini ini saya. Cari cara aman untuk tidak sakit hati, dengan sendiri saja (walaupun kesendirian itu luar biasa menyiksa saya, tapi kalau dibandingkan dengan berpasangan dan memiliki kemungkinan besar untuk sakit hati parah, saya milih sendiri dulu ajah..zona aman, huh..). Daaaaaaaaaan, lebih baik juga saya sendiri daripada saya nanti nyantol lagi sama lelaki-lelaki brengsek. Bodo lah orang bilang, “Ya ampuuun, mbak. Uda umur berapa..” Preeeeeeeeet..

Saya hanya akan menunggu lelaki yang tepat saja kalau begitu. Yang baik hati dan tidak sombong. Yang mau menerima saya apa adanya. Yang berpikir sejuta kali untuk menyakiti hati saya. Yang open mind. Yang nanti akan datang untuk membuka kembali hati saya. Dan tentunya yang bisa betah sama rewelnya saya.

(sebuah tulisan sebagai imbas PMS)

5.10.2010

Jogjakarta

Saya meninggalkan Jogja. Kota dimana saya menghabiskan empat tahun terakhir kehidupan saya. Dimulai dari sebuah bencana berskala nasional yang penuh air mata hingga seremonial wisuda paska sarjana yang gegap gempita. Empat tahun menorehkan begitu banyak cerita. Menyenangkan, menyedihkan, menggembirakan, menyebalkan hingga yang tak terdefinisikan. Mulai dari banyak duit, bergaya hura-hura hingga kejadian ngesot tanpa uang sepeserpun di dompet, dibelain ngutang dan menjual diri hingga Cilacap. Diawali dengan Marlboro Light Menthol, Lucky Strike Menthol, Avolution Menthol dan pada akhirnya cukup dengan Xylithol.

Jogja. Kota kecil yang sekarang sumpah-sumpah penuh sesaknya. Kota yang kabarnya terkenal dengan biaya hidupnya yang rendah (walaupun itu tidak berlaku juga bagi saya, mengingat defisit sering menghampiri saya di akhir bulan). Warung kopi dengan akses internet yang oke dan harga terjangkau. Kota dengan akses rata-rata 15 menit ke segala penjuru kota (ingat, penjuru kota, bukan kabupaten). Kesenian yang merakyat dan mudah ditemui di banyak tempat. Mulai dari pasar malam sampai pameran lukisan bernilai puluhan juta. Kebebasan berekspresi yang seolah-olah enggan untuk terbatasi oleh norma. Dari pasangan lawan jenis hingga yang sejenis. Ini Jogja (yang sepertinya milik) saya.

Jogja. Dimana persahabatan terjalin di antara teman-teman yang saya tidak perhitungkan sebelumnya. Teman-teman yang (mereka bilang) saya acuhkan. Teman-teman yang ada ketika saya membutuhkannya. Teman-teman yang dengan sukarela menerima saya menonton televisi dengan tidak tahu dirinya di kamar mereka. Belum lagi ketika saya menjarah ransum yang ada di lemari mereka. Teman-teman yang dengan terbuka menerima teriakan-teriakan absen saya yang ga penting. Teman-teman yang jadi jujugan ketika dompet kosong mlompong. “Pinjem si duitnya dulu buat bli makan.” Teman-teman yang sangat membantu saya melupakan sejenak kegelisahan saya terkait dengan pekerjaan, jodoh dan usia (karena mereka masih belum ke situ pikirannya..hehehehehehe..). Teman-teman kecil saya yang saya rindukan.

Jogja. Ketika Universitas Gadjah Mada menjadi momok bagi saya (setelah kegagalan saya menembus UI, saya jadi traumatis dengan universitas negeri). Ketidaksesuaian nilai yang saya anut dengan nilai yang berlaku di kampus. Keraguan saya akan kemampuan saya berjuang menyelesaikan studi. Pengkhianatan dan kemunafikan yang menjadi menu standar dalam lingkup pergaulan yang orang bilang dunia kaum cendekia. Hingga penemuan teman yang sebenarnya. Teman-teman yang tidak harus bersama setiap hari namun ada di hati setiap waktu. Teman-teman yang menemani saya ketika akhirnya air mata itu datang kembali. Pelukan yang mampu memberikan semangat. Omelan yang termaknai sebagai perwujudan rasa sayang.

Jogja. Dimana saya belajar bahwa cinta tidak selamanya bisa memiliki. Dimana rasa sayang mampu bersifat satu arah. Dimana ada permusuhan yang seolah enggan saya akhiri. Dimana kebencian dan rindu bersahabat. Dimana saya perlu belajar banyak untuk menstabilkan emosi saya.

Dan inilah Jogja. Kota yang akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati saya. Kota yang sangat bermakna bagi saya.










http://devry.wordpress.com


;;