It's all about my world, the city girl..
“Kalau mau nunggu ya agak siangan, cantik. Paling jam 2 – 3 an aku kelar.”
Label: When I Talk about Other
Label: It's all about me
Curi-curi waktu dikit aja buat nulis lagi. Tiba-tiba hasrat menulis begitu besar plus ada ide pula. Daripada ilang. Sabtu, pekan lalu, saya dan seorang sahabat watched the movie. Sebuah film dari serial yang jadi favorit saya, the one and only, SEX and THE CITY. Ceritanya standar lah, saya akui itu. Tapi ada satu hal yang sangat menginspirasi saya (asli, saya merinding ketika menulis ini) dari film itu, salah satu soundtracknya yang berjudul: I am Woman. Versi aslinya dinyanyikan oleh Helen Reddy di sekitar tahun 70an (saya baru tau Helen Reddy setelah saya googgling. And she’s so adorable. Beautiful, charming, energic, dynamic and so awesome). Saya download lagunya, saya putar again again again dan again. Saya ikut menyanyikan liriknya keras-keras (thanx God, I have my own officeroom. Ga perlu takut mengganggu orang lain). Tulisan ini dibuat dengan iringan Helen Reddy, dan saya masih saja merinding!!!!! Dan ini liriknya:
Label: When I Talk about Other
Hari ini, kerjaan saya di kantor (saya suka banget ni sama statemen ini, soalnya saya ga nganggur lagi, ga gila lagi gara-gara nganggur) lagi santai (kaya di pantai). Ya jelas lah, secara saya habis kerja rodi dua minggu kemarin, pontang-panting ngejar target. Break lah bentar. Awal minggu, gila lagi. Ngejar target lagi. Hehehehehehe.. Ga penting juga si intermezzonya, jadi ga jelas saya mau cerita apa..hihihihihihihihi..Label: When I Talk about Other
“Kamu menarik, kamu pintar, kamu menyenangkan, kamu loveable, kamu memiliki segalanya. Tidak pernah ada cukup alasan untuk membuatmu merasa tidak pantas untuk dicintai,” begitu sahabat-sahabat sang Putri memberikan semangat. Mengembalikan rasa percaya diri yang tercecer. Sang Putri pun tersenyum, “Waktunya kembali membuka hati untuk Pangeran.”Label: It's all about me
Teman saya pernah menanyakan mau sampai kapan saya akan mbulet dengan pola saya. Dan saya tidak pernah bisa menjawabnya. Bukan saya tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki tepat dan baik hati yang mau menerima saya apa adanya. Saya mau. Teramat mau. Dulu pernah saya coba. Saya berhubungan dengan seorang yang lurus-lurus saja hidupnya. Baik sepertinya. Ketika saya sudah merasa dekat, mulai percaya padanya, mulai menggunakan hati, saya ceritakanlah padanya masa lalu saya. Dan, lelaki itu pun pergi begitu saja. Sakit hati lagi saya. Ya akhirnya ya begini-begini ini saya. Cari cara aman untuk tidak sakit hati, dengan sendiri saja (walaupun kesendirian itu luar biasa menyiksa saya, tapi kalau dibandingkan dengan berpasangan dan memiliki kemungkinan besar untuk sakit hati parah, saya milih sendiri dulu ajah..zona aman, huh..). Daaaaaaaaaan, lebih baik juga saya sendiri daripada saya nanti nyantol lagi sama lelaki-lelaki brengsek. Bodo lah orang bilang, “Ya ampuuun, mbak. Uda umur berapa..” Preeeeeeeeet..Label: It's all about me
Label: It's all about me